Artikel Featured

Wajah Pemira 2017

Ilustrasi: Yahya Haytsam (PL’16)

Pemira dapat dikatakan sebagai sebuah pesta demokrasi terbesar di ITB. Selayaknya pemilu pada sistem politik yang bertujuan untuk memilih seorang pemimpin, begitu pula Pemira ini yang bertujuan untuk memilih K3M dan MWA WM. Pemira juga merupakan momentum untuk menentukan arah pergerakan kemahasiswaan di kampus ini. Pemira tahun ini sungguh spesial dengan pernak-pernik barunya. Lalu, seperti apakah pernak-pernik tersebut menghiasi Pemira tahun ini?

Pawai HMJ dan Unit
Pernak-pernik yang pertama ialah pawai. Pemira kali ini memiliki inovasi untuk memperkenalkan kandidat K3M kepada masa kampus secara persuasif yaitu dengan pawai. Pawai ialah suatu kegiatan yang dilakukan dengan menyinggahi sekretariat setiap Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) atau zona tertentu untuk mengenalkan kandidat K3M kepada massa kampus. Pawai menjadi awal dari proses Pemira tahun ini.

Ada dua jenis pawai, yakni untuk HMJ dan unit. Pawai HMJ dilaksanakan pada tanggal 8 dan 14 November untuk HMJ di Jatinangor serta pada 9 dan 10 November untuk HMJ di ganesha. Pawai untuk unit dimulai 11 November. Namun, karena suatu alasan pawai unit diundur menjadi 18 November. Lokasi pawai unit dibagi menjadi 5 zona, yaitu selasar tengah CC Barat, selasar tengah CC Timur, basement Labtek VIII, selasar tengah di bawah kolam renang Saraga dan Sunken Court. “Diadakannya inovasi pawai unit dan HMJ diharapkan agar massa kampus dapat mengenal lebih awal masing-masing kandidat lebih mendalam dan terbuka, berbeda dengan hearing yang terkesan kaku dan umum,” ujar Abiliansyah (TM’15) selaku Ketua Pemira 2017.

Pawai Pemira yang diharapkan bisa berjalan sesuai rencana dan memberikan dampak positif ternyata tidak seutuhnya berjalan dengan baik. Hal lain yang dirasa kurang dari pawai tahun ini ialah konten yang dibawa oleh kandidat. Penyeragaman konten pawai diperlukan agar massa kampus mendapat informasi yang sama dan tidak terjadi kebingungan massa HMJ. “Konten perlu diperbaiki karena masih timpang, yang satu lebih ke perkenalan diri, yang satu penjabaran analkon, massa jadi bingung harus menjawab gimana,” terang salah satu massa Himarekta Agrapana. Di samping itu, Miftah Rangga (EL’14) selaku Ketua HME mengungkapkan bahwa HMJ, terutama HME, sangat menghargai  pawai. Ia juga mengaku bahwa HME sangat bersemangat ketika menyambut pawai kemarin.

Feedback positif yang didapat oleh HMJ dan kekurangan selama pawai sudah seharusnya dijadikan evaluasi untuk Pemira tahun depan jika kegiatan pawai memang akan dilaksanakan kembali. Mengingat keaktifan massa kampus perlu dibangkitkan kembali agar pesta demokrasi di ITB menjadi sebuah “pesta” yang sesungguhnya.

Pelanggaran tanpa Poin
Politik tak pernah lepas dari patologinya. Begitu pula dengan Pemira, tak dapat terhindarkan dari pelanggaran. Oleh karena itu, Komisi Displin (Komdis) selalu mengawasi setiap kegiatan yang dilakukan kandidat dan memberikan sanksi apabila terjadi pelanggaran. Berbeda dengan Pemira sebelumnya yang menggunakan sistem poin untuk setiap pelanggaran, Pemira kali ini menerapkan aturan penggolongan pelanggaran. Terdapat 3 jenis pelanggaran: ringan, sedang dan berat. Kandidat yang melakukan pelanggaran ringan sebanyak 5 kali maka dihitung 1 kali pelanggaran sedang. Pelanggaran sedang sebanyak 3 kali dihitung 1 kali pelanggaran berat dan 2 kali melakukan pelanggaran berat akan didiskualifikasi.

Penerapan aturan ini tetap memperhatikan sanksi yang diberikan kepada kandidat. Kandidat yang melakukan pelanggaran ringan akan mendapat teguran dari panpel Pemira disertai press release. Untuk pelanggaran sedang akan diberi sanksi pemotongan dana kampanye sebesar 250 ribu sementara pelanggaran berat diberi sanksi pemotongan dana sebanyak 1 juta. “Jadi harapannya dengan seperti itu bisa lebih memberikan efek jera ke kandidat itu sendiri,” jelas Abiliansyah.

E-Voting dan DPT
Perkembangan teknologi yang kian pesat tak pelak berdampak pada sektor-sektor lain, seperti pemungutan suara. Sistem e-voting bukan hal yang baru pada pemira. E-voting telah diinisiasi pada tahun 2012, kemudian di tahun 2016 sistem ini sempat digunakan sebagai langkah awal pengembangan teknologi di bidang politik. Sistem e-voting ini menggunakan Local Area Network (LAN). Terdapat komputer server sebagai penerima input suara dan komputer client untuk memilih kandidat.

Tentu tidak sembarang orang bisa mendapatkan akses komputer server. Hanya ada 8 orang yang mampu mengakses, yaitu beberapa panpel, Kongres, KPU, dan kandidat. “Untuk tahun ini bakal ada 8 TPS, 1 di Jatinangor dan 7 di Ganesha. Gambaran umum dari lokasinya adalah lokasi-lokasi yang menjadi pusat kita berkegiatan dan lebih spesifiknya lagi karena pemungutan suara diadakan pada minggu ujian dari tanggal 3 sampai 8 desember. Jadi lokasi TPS pasti akan mendekati ruang ujian.” ujar Abiliansyah, Ketua Pemira 2017. Tahun ini akan digunakan sistem preferensi distribusi. Sistem preferensi akan menyatakan kandidat sah sebagai K3M apabila memperoleh minimal 20% suara yang masuk dari ½ n + 1 prodi atau fakultas/sekolah.

Namun, sistem e-voting sendiri sempat mengalami beberapa permasalahan. Di hari pertama masa pemungutan suara, program yang telah dirancang sempat down sehingga terjadi Darurat TPS. Zona-zona TPS yang mengalami masalah, yaitu: Selasar CC Timur, Selasar Kavi Kaffa, Selasar CADL, dan Amphitheater GKU Barat. Di hari ketiga dan hari terakhir, dideteksi ada kesalahan Data Pemilih Tetap (DPT) yang membuat beberapa massa kampus tidak dapat menyuarakan haknya. Kesalahan pada DPT ini terbilang fatal sebab membuahkan hari penghitungan suara harus diundur dan masa pemungutan suara diperpanjang. Seharusnya pada 8 Desember 2017 masa pemungutan suara sudah ditutup karena penghitungan suara harus dilakukan, namun diubah menjadi 11 Desember 2017. Ada pun kini suara yang masuk mencapai 34,85% dari total massa KM ITB.

Forum (tidak) Bersama
Forum Bersama atau dikenal dengan Forbas merupakan inovasi dari Pemira tahun ini, seperti halnya Pawai. Forbas yang digadang-gadang akan menjadi simulasi layaknya debat pemilu presiden malah berakhir tragis. Forbas menargetkan minimal 10 HMJ, kenyataannya hanya 9 perwakilan HMJ yang hadir. Bayangkan saja, dari beribu-ribu mahasiswa hanya sebagian kecil yang datang dan tergerak untuk berpartisipasi di Forbas. Beberapa menganggap bahwa kurangnya pensuasanaan lah yang membuat Forbas menjadi sepi.

Hal ini senada dengan ungkapan Ketua Himafi, Zakky Anwar (FI’14), “Forsos kemaren sangat dadakan, partisipasi undangan wajib cuma buat para kahim, tidak ada pensuasanaan kampus yang masif.” Akibat sedikitnya partisipan yang hadir  menyebabkan Reynaldi Satrio Nugroho (TI’14) selaku moderator Forbas menyatakan walk out.

Tidak hanya masalah pensuanaan dan publikasi informasi, berkaitan urgensi tentang forbas ini banyak di pertanyakan berbagai pihak. Hal ini diutarakan oleh Ketua HME, Rangga, “Kaji ulang urgensi dari adanya Forbas tersebut. Dan ingat, 1 hari dalam agenda Badan Pengurus HMJ itu berharga, bahkan untuk belajar saja BP sendiri sudah mengagendakan jauh hari. Apalagi kita mengetahui bahwa HMJ adalah pemegang basis masssa di ITB. Jadi jika akan membuat acara ke depannya, pikirkan dan kaji ulang urgensi dari acara tersebut.”

Kegagalan forbas yang terjadi tidak menghalangi niat baik tujuan yang akan diberikan jika Forbas ini benar-benar terwujud. Oleh karena itu, perbaikan sistem dan pengkajian ulang setiap agenda Pemira mutlak diperlukan untuk dapat menggerakkan massa kampus dalam menyemarakan Pemira.

Harapan dari Forbas ini adalah bisa memberikan kesempatan kepada massa kampus untuk dapat bertanya atau menanggapi tentang proses Pemira ini. Kesadaran dan antusiasme massa kampus memang perlu ditingkatkan. Jika keadaan seperti ini dibiarkan terjadi, bukan tidak mungkin suatu saat massa kampus tidak akan peduli lagi terhadap Pemira. ”Semoga setelah Pemira ini, kita tersadarkan bahwa kondisi KM ITB kita sedang seperti ini,” ujar salah satu panpel.

Black Campaign Pemira
Dalam proses dinamika politik, dikenal adanya kampanye gelap (black campaign). Suatu hal yang dianggap wajar bila dalam pemilu terdapat black campaign untuk menarik massa dan menjatuhkan lawan. Namun, menurut salah satu sumber, kandidat K3M pada Pemira kali ini kurang panas dan seksi. Hal ini yang menyebabkan Pemira tahun ini terasa kurang memiliki greget, serta kurang berani untuk melakukan sedikit permainan dari kedua kandidat. Selain itu, diakui pula oleh Ketua Pemira bahwa memang kedua kandidat relatif nurut atau baik-baik saja.

Panpel Pemira tahun 2017 sebenarnya telah memiliki solusi untuk mengantisipasi terjadinya black campaign, yakni dengan memberikan fasilitas kampanye mandiri minimal 4 kali untuk kandidat. Tujuan yang diharapkan bukan hanya memperkecil terjadinya black campaign tapi memberikan kesempatan kandidat untuk mengekspresikan visi dan misinya kepada massa kampus secara lebih santai. Setiap kampanye mandiri tentu akan selalu diamati oleh panpel untuk melihat pelanggaran yang terjadi dari kandidat. “Jadi harapannya agar mereka nggak usah kampanye sembunyi-sembunyi.” ujar Abiliansyah (TM’15).  

Pemira tahun 2017 melukiskan wajah baru dengan berbagai hal yang tak ditemukan di Pemira tahun-tahun sebelumnya. Berbagai tanggapan tentu telah diterima oleh sang empunya wajah. Ada yang berupa kritik dan saran, dukungan, bahkan tak jarang caci dan maki. Di samping itu, satu hal yang perlu disadari bahwa sesungguhnya Pemira adalah milik bersama. Pemira adalah milik sebuah keluarga, KM ITB. Kehadiran satu anggota akan menentukan masa depan keluarga tersebut. Maka, bersuara lah hingga terlukis senyuman di wajah Pemira kini untuk menyambut wajah KM ITB nanti.

Penulis: Maulana Affan (FMIPA’17)
Editor: Muhammad Ghaffar (BM’15)
Reporter: Tim Redaksi Boulevard 2017

Komentar