Artikel

Partisipasi Pemira

Ilustrasi: Sons Bima (MT’16)

Tak terasa sudah beberapa bulan lamanya Pemira (Pemilihan Raya) dilaksanakan. Selesailah sudah tugas Ketua Kabinet Keluarga Mahasiswa (K3M) sebelumnya. Dengan slogan “Mari Berpesta”, Panitia Pelaksana (Panpel) Pemira 2017 menjalankan Pemira untuk menjadi “Pesta Demokrasi Terbesar” di kampus ini.  Namun, mimpi itu tidak akan tercapai tanpa adanya partisipasi massa. Lalu, bagaimana dengan partisipasi massa KM ITB? Pantaskah Pemira KM ITB disebut sebagai sebuah “Pesta Demokrasi”?

Melihat dari rekam jejak keberlangsungan Pemira sebelumnya, tingkat partisipasi massa memang tak pernah setinggi yang diharapkan. Dahulu ketika KM ITB masih muda, ketidakjelasan aturan dan ketidakpedulian massa membuat Panpel Pemira saat itu merasa tertekan. Hingga banyak di antara mereka yang mengundurkan diri. Tahun-tahun berikutnya pun tak berbeda jauh. Antusiasme massa masih ala kadarnya, meski telah mencerminkan perbaikan pada proses Pemira.

Walaupun demikian, bukan berarti keberlangsungan Pemira selalu identik dengan rendahnya partisipasi. Salah satu yang patut dicatat adalah Pemira 2013, ketika tingkat partisipasi massa mencapai lebih dari 50%. Ideologi kedua kandidat yang berbeda berhasil menarik massa kampus untuk berdemokrasi. Ketua Panpel Pemira 2017, Abiliansyah Fatwa Putra (TM’15), mengungkapkan, “Pada tahun itu, kandidat-kandidatnya cukup seksi, dalam arti bisa menggerakkan massa dan memang orangnya bagus.” Selain itu, mulai diikutsertakannya TPB dan adanya kasus yang membuat massa aware terhadap Pemira juga menjadi penyebab tingginya partisipasi.

Untuk tahun-tahun setelahnya, partisipasi massa lagi-lagi menurun. Setahun berikutnya, tingkat partisipasi massa hanya sekitar 46%. Pemira 2016 bahkan lebih rendah dari itu. Abi melihat kondisi ini sebagai akibat dari massa kampus yang sudah tidak lagi aware terhadap politik kampus. Ia mengatakan bahwa terdapat beberapa individu yang memang tidak ingin mengikuti politik secara keseluruhan. “Kan ada yang berpikir, ‘Politik itu kotor, aku gak pengen masuk ke politik,’” ujarnya.

Mengenai kondisi Pemira tahun ini sendiri, Ketua Komisi Pemilu 2017, Hessel Juliust Wongkaren (FI’14) mengatakan bahwa secara keseluruhan partisipasi massa memang menurun, namun ada pula yang meningkat. “Pada saat Hearing TPB Cirebon, seluruh lembaga kuorum. Bahkan, salah satu fakultas 100% anggotanya hadir. Tapi di kesempatan lain, Hearing Zona di Ganesha misalnya, hanya ada tiga lembaga yang kuorum,” ungkapnya.

Sementara itu, Abi mengatakan bahwa partisipasi massa tahun ini tidak sesuai harapan. Hearing TPB sampai harus diundur karena jumlah pesertanya sangat sedikit, hanya 13 orang. Padahal Hearing TPB tahun-tahun sebelumnya selalu banyak. “Aku dan panpel sendiri juga masih bertanya-tanya,” jawab Abi terkait rendahnya partisipasi TPB. Abi melanjutkan bahwa terdapat dua alasan teknis yang dapat mempengaruhi partisipasi massa ini. Pertama, cuaca yang tidak mendukung. Kedua, adanya agenda TPB Cup yang waktu pelaksanaannya bersamaan dengan waktu hearing. “Bukannya mau menyalahkan, tapi dari alasan teknisnya, yang paling bisa dimaklumi adalah kedua hal itu,” sambungnya.

Forum Bersama yang digadang-gadang dapat meningkatkan atensi dan antusiasme massa juga batal dilaksanakan. Abi menyebutkan bahwa ada kemungkinan anggota lembaga-lembaga yang bersangkutan tidak bisa menghadiri Hearing Zona atau forum karena kepentingan lain. Selain itu, Ia juga mengatakan bahwa turunnya tingkat partisipasi juga bisa disebabkan perubahan jadwal agenda yang tidak diikuti publikasi dengan baik.

Ameir (MS’14), Ketua Panpel Pemira 2016, mengatakan bahwa Panpel Pemira 2017 juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Ia mengatakan bahwa terdapat banyak hal yang dapat menyebabkan rendahnya partisipasi, seperti singkatnya waktu Pemira dan tidak ada benefit langsung yang dirasakan massa. “Jadi, gak serta merta kita bisa nyalahin satu pihak aja,” ucapnya.

Melihat partisipasi massa yang menurun tahun ini, Ameir merasa bahwa salah satu misi Panpel Pemira 2017, yaitu “Membangun kesadaran mengenai Pemira kepada massa KM ITB”, akan sulit tercapai. “Itu bisa dibilang misi yang sangat susah buat dikejar dalam waktu dua bulan,” ujarnya. Selain karena keterbatasan waktu, ia juga mengatakan bahwa kesadaran hanya bisa disusun dari sistem kaderisasi yang baik. Lanjutnya lagi, ia menyatakan bahwa misi tersebut adalah misi yang seharusnya dibangun bersama-sama oleh Kabinet, himpunan, dan seluruh anggota KM ITB, bukan hanya oleh Panpel Pemira.

Sementara itu, Abi merasa masih cukup optimis misi tersebut akan dapat tercapai. “Karena aku sendiri tidak ingin kehilangan keyakinan pada massa kampus,” ucapnya. Ia akan mengusahakan agar Pemira dapat mengejar ketertinggalannya di akhir-akhir masa Pemira. Menurutnya, kendala terbesar dari tercapainya misi tersebut adalah pensuasanaan. “Makanya kita bakal memperbaiki pensuasanaan kita,” ungkapnya. Ia juga mengatakan bahwa sebuah forum antara Kongres dan Panpel telah diadakan untuk membahas peran dari masing-masing stakeholder Pemira dan bagaimana koordinasi yang sebaiknya dilakukan di antara mereka.

Meskipun telah dilakukan beragam usaha, tampaknya tingkat partisipasi massa pada Pemira 2017 tidak akan setinggi Pemira 2013. Melihat dari fakta pada kondisi hearing, Abi mengatakan bahwa partisipasi massa tidak akan bisa melewati 50% tahun ini. Ameir juga mengatakan demikian, tidak akan mudah untuk menaikkan tingkat partisipasi sesignifikan itu, setidaknya untuk Pemira tahun ini.

Ketika diwawancara oleh tim Boulevard, Ameir berpesan kepada Panpel tahun ini untuk tetap semangat menjalankan tugas. Selain itu, Ameir juga menyampaikan pesan kepada siapa pun calon K3M yang terpilih nantinya, jadilah inisiator untuk membangun kesadaran massa, bukan hanya terhadap kegiatan-kegiatan kampus, tapi juga terhadap lingkungan sekitar. “Kalau itu bisa terbangun, harusnya Pemira nanti juga akan terkena imbasnya,” ujar Ameir.

Mengenai keberlangsungan Pemira untuk ke depannya, Abi berharap kepada seluruh massa KM ITB agar tidak tutup mata terhadap politik, dan yang terdekat adalah politik kampus, dalam hal ini Pemira. Karena menurutnya, meskipun nantinya tidak bekerja di ranah politik, politik akan terus ada di mana-mana. Ia mengatakan bahwa Pemira adalah kesempatan terbaik untuk dapat belajar politik, sebelum terjun ke politik yang sebenarnya.

Pada akhirnya, keberhasilan Pemira tetaplah bergantung kepada massa KM ITB itu sendiri. Sebaik apa pun kinerja panitia atau semenarik apa pun kandidat yang ada, semua tidak akan berarti jika massa sudah tidak peduli terhadap keberlangsungan KM ITB ke depannya. Telah tiba saatnya massa kampus untuk memilih, tetap diam dan membiarkan Pemira berlalu tanpa arti, atau melangkahkan kaki, ikut serta dalam pesta demokrasi. []

 

Penulis dan Reporter: M. Adzky (FMIPA’17)
Editor: Renaldy Yusuf (MT’16)

Komentar