Sastra

Kita di 14 Februari

Ilustrasi: Sons Bima N (MT’16)

 

Aku selalu berkata kepada Sam, temanku, bahwa aku tidak pernah menyukai hari Valentine. Romantisme yang selalu disebut-sebut hanya sebuah omong kosong bagiku. Karena nyatanya selama tiga tahun berturut-turut ini, pada tanggal 14 Februari aku selalu mendapat kesialan-kesialan perihal cinta. Bukan hangatnya hati yang ku rasakan ketika aku mendapat hadiah bunga dan coklat dari seseorang, justru ia jatuh berkeping-keping, musnah.

Perkenalkan, aku, seseorang yang selalu patah hati dengan orang yang berbeda di tanggal 14 Februari, dan tidak ingin merasakan lagi untuk yang keempat kalinya.

***

Saat itu, tanganku dengan lincah menggerakan tetikus yang ada di meja. Mataku sedang terfokus pada layar yang ada di hadapanku. Terlihat di sana susunan kalimat di sebuah program pengolah kata. Hari ini cerah, dan otakku sedang terisi penuh dengan inspirasi-inspirasi yang akan ku tuangkan dalam bentuk untaian bahasa.

“Halo, Ras.”

Tanganku berhenti bergerak. Badanku menegang. Membeku. Mendengar suaranya adalah suatu keadaan yang tidak pernah ku sukai. Keberadaannya selalu saja membuatku kacau. Lihatlah! Pikiranku tidak bisa berpikir jernih lagi dan jantungku yang berdegup lebih kencang. Ingin sekali mulutku menyahut, mengusirnya dengan berkata, “Hei, jangan pernah datang menemuiku karena aku harus menata hati, jiwa, dan raga agar tidak bertindak memalukan di depanmu!” Tapi, ya, percuma saja. Diriku ini tidak akan pernah sanggup mengucapkannya karena aku tahu bahwa menyampaikan hal seperti itu malah membuatku terlihat seperti orang bodoh yang tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri.

Ia bernama Pras, salah satu rekan satu divisiku di proyek sosial di himpunan jurusan kami. Kami berada di tim desain, dan kalau boleh aku jujur, ia adalah orang yang paling suka ku ajak bekerja sama. Ia bertanggung jawab, sangat ahli di bidang yang sedang kami tangani. Aku merasa bahwa aku dan Pras sangat cocok karena kami saling melengkapi. Ia mahir menggunakan aplikasi A, sedangkan aku lebih jago mendesain dengan aplikasi B. Aku selalu membayangkan bagaimana jika di suatu hari nanti kami berdiskusi, mengerjakan bersama sembari tertawa, saat  mendesain undangan tunangan kami.

Imajinasiku itu terlalu liar, sampai Pras harus mengguncangkan badanku karena aku yang tidak merespon sapannya. Oke. Mungkin saat ini aku melakukan kesalahan yang biasanya aku hindari, yaitu tersenyum sendiri membayangkan jika imajinasiku itu terjadi. Semoga Pras tidak melihatnya atau jika tidak ia akan melabeliku sebagai cewek gila.

Saat tersadar, aku langsung buru-buru menutup halaman yang menampilkan ceritaku, dan membuka sebuah aplikasi editing. Dengan tergagap aku menjawab,

“Ha.. haloo Pras! Hehe.”

Pras hanya menjawab dengan senyum manis yang biasa ia berikan, yang selalu membuatku takjub kepada Tuhan karena telah menciptakan manusia setampan itu. Kemudian ia duduk di sampingku dan mengambil alih laptopku. Aku membulatkan mata. Kaget. Tindakannya yang tiba-tiba itu membuatku cemas. Aku khawatir jika ia salah membuka tab dan taraa dia membaca karya sastra yang kubuat. Itu akan menjadi masalah karena cerita itu berisi tentangnya dan dengan tidak pintarnya malah mencantumkan nama kami sebagai tokoh.

“Wah udah mau selesai, nih. Rajin amat, Mbak.”

Pujiannya itu melegakanku karena berarti ia tidak salah membuka aplikasi. Kalimat sederhana itu justru membuat pipiku bersemu merah, dan aku terharu karena hasil begadangku sampai pukul tiga pagi diapresiasi olehnya. Aku mengakui ini berlebihan. Tapi, hal normal apa sih yang kamu harapkan dari seseorang yang sedang memendam perasaan kagum (dan mungkin suka, atau bahkan.. cinta?) kepada orang lain?

“Nah, kan itu mau selesai, Ras. Kalau gitu, nonton yuk, Ras!

Tidak. Bahkan pujian itu bukan apa-apa jika dibanding ajakan menonton ini. Seketika aku merasa bahwa aku akan melayang hingga ke langit, menyentuh awan-awan di atas dengan lembut, karena nyatanya perasaanku sesenang itu. Pras tidak pernah mengajakku untuk pergi di luar masalah proyek. Aku mulai berpikir, apakah rasa yang ku pendam selama ini akhirnya terbalaskan juga?

Tidak kunjung ku jawab, ia mengarahkan pandangannya tepat di mataku. Meneduhkan. Tidak hanya itu, kini tanganku yang kecil berada pada genggaman telapak tangannya yang besar namun menghangatkan. Aku berusaha menghindari tatapannya, namun matanya seakan mengunci diriku agar tidak pernah mengalihkan penglihatanku. Jantungku semakin berdetak tak karuan, kala suara lembutnya kembali menyapa telingaku dan berkata,

“Jadi, bagaimana Ras? Mau kan?”

Tolong, ini bukan pernyataan cinta. Namun sikapnya itu membuatku lemas dan rasanya aku akan mati karena ditembak tepat di hatiku. Bingung. Apa yang sebaiknya ku lakukan sekarang? Apakah kabur untuk menetralisir perasaanku yang sedang super duper kacau?

“Ngg.. oke.. Pras.”

Jawabku pelan. Aku tahu manusia membutuhkan kepastian. Dan aku tidak ingin menjadi manusia pemberi harapan palsu karena menggantungkan pertanyaan seseorang.

Setelah aku menjawabnya, ia langsung melepaskan genggamannya. Ia mendongakkan langit, menghembuskan napas. Pikirannya seakan-akan terbang jauh, meninggalkanku yang sedang termenung karena tidak menyangka kejadian yang aku tunggu akhirnya datang.

“Duh, kok aku deg-degan banget, ya.”

Aku menoleh ke arahnya, aku akan menimpali perkataannya namun ia langsung menambahkan,

“Kira-kira kalau aku mengajaknya seperti itu, Sandra tidak akan menolak kan?”

Tegang. Tubuhku kaku. Kali ini, otakku benar-benar kosong. Sebaris pertanyaan. Sebuah bom yang saat ini meledak di hatiku. Lebih dari kacau, karena saat ini aku benar-benar seperti akan terjatuh dari tebing ratusan kilo. Hampa. Sakit.

Aku tidak menangis, dan hanya tersenyum kecil. Menyesali semua pemikiranku yang terlewat apik. Nyatanya, ini tidak sesuai ekspektasi. Pras sudah menyukai orang lain, dan aku hanyalah rekan kerjanya yang bisa ia gunakan sebagai objek latihan sebelum menyatakannya kepada orang lain.

Tidak sengaja, aku melirik tulisan tanggal di pojok kanan bawah laptopku. 14 Februari. Aku tertegun. Aku kembali tersenyum kecut saat menyadari bahwa ini bukan yang pertama kalinya. Dan sembari mengambil ponselku, aku tahu apa yang harus ku lakukan kali ini.

***

Aku merasakan ponsel yang ada di saku celanaku bergetar. Dengan segera aku mengambilnya dan melihat siapa yang sedang meneleponku. Saat melihat namanya yang tertera di layar, secara tidak sadar aku tersenyum.

“Halo, Sam?”

Sebuah suara di seberang sana terdengar.

“Ya, Ras? Ada apa?”

“Hahahaha.”

“Kamu tertawa. Tapi tidak dari hati. Aku tahu tidak usah mengelak. Ada apa?”

“Ingat dengan Pras? Anak divisi desain proyekku?”

“Yang selalu kau ceritakan?”

“Iya. Dia menambah penyebab mengapa aku tidak menyukai hari ini.”

Aku terdiam.

“Aku kira ia serius mengajakku nonton. Tapi ternyata ajakan itu ia tujukan kepada orang lain. Aduh, Sam. Mengapa nasibku selalu begini sih?”

Aku tidak menjawab. Karena sebenarnya nasibku tidak jauh berbeda. Dari dulu hingga sekarang aku selalu berusaha menyembuhkan luka yang ada di hati ini. Dengan sabar aku selalu mendengarkan keluh kesah tentang perasaannya yang tidak pernah terbalas di hari Valentine, padahal jauh di dalam hati aku sangat berharap ia sadar, bahwa ada orang yang selalu berada di dekatnya yang siap melindungi perasaannya dengan segenap jiwa.

Oh iya, sebelum aku berkisah lebih jauh, izinkan aku memperkenalkan diri.

Aku Sam, seseorang yang selalu patah hati dengan orang yang sama di tanggal 14 Februari, dan ternyata masih harus merasakannya untuk yang kesekian kalinya.

 

Penulis: Irza Sanika Aulia (FTMD’17)

 

Komentar