Editorial Featured

Korpus BEM SI yang Mendadak Populer Harus Sedikit Dikuliti (Bagian 1)

Mendadak pada Rabu malam (21/2), beberapa elitis kampus tampak berseliweran di beberapa group chat, dan kebingungan ke sana ke mari mengenai putusan tiba-tiba Ketua Kabinet KM ITB yang memutuskan menerima pengajuan untuk menjadi salah satu kandidat koordinator pusat (korpus) BEM SI. Kamis dini hari, tersiar berita bahwa Ahmad Wali Radhi (TA’14) mengambil bendera BEM SI dan resmi menjadi koordinator pusat BEM SI periode 2018/2019. Mari bernapas sejenak untuk mencerna keributan yang kebetulan hingga sekarang masih menjadi trending topic di kalangan elitis kampus.

Sampai di sini, siapakah yang sebenarnya akrab mendengar istilah BEM SI? Struktural kabinet KM ITB? Pegiat gerakan eksternal kampus? Anggota Kongres KM ITB? Ketua himpunan? Posisi-posisi di atas sebenarnya tidak secara instan membawa yang bersangkutan mengerti atau bahkan sekadar mengetahui BEM SI. Maka, bukan sesuatu yang aneh jika keberadaan BEM SI tidak sampai dalam jangkauan massa kampus. Toh, ‘para pejabat kampus’ sendiri pun tak banyak tahu. Secara akronim, BEM SI memiliki kepanjangan yang biasa saja, bukan sesuatu yang sulit untuk diingat. BEM SI merupakan akronim dari Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia, begitulah. Mungkin dari nama lengkap inilah kita mulai bertanya-tanya, ngapain sih kerjanya? Atau mungkin rasa penasaran kita tidak sebesar itu sehingga yang keluar dari pikiran kita adalah oh, siap iya. Bisa jadi beberapa dari kita setelah mengetahui kepanjangannya berinisiatif untuk memahami secara mandiri dalam hati, paling buat ngumpul-ngumpul.

BEM Seluruh Indonesia atau BEM SI merupakan bentuk gerakan aliansi strategis dari BEM yang ada di seluruh Indonesia. Secara garis besar, tujuannya adalah agar pergerakan mahasiswa dapat terkoordinir secara nasional untuk memberi dampak perubahan bagi Indonesia.  Akhir-akhir ini gerakan BEM SI jadi sorotan nasional, entah karena aksinya yang menyalahi protokol, tuntutannya yang dianggap tidak urgent, ataupun kajian yang dianggap masih kurang. Terlepas dari itu, ada hal patut dicermati. Seburuk apapun kajiannya, aksi BEM SI akan selalu jadi sorotan. Di sini yang ingin ditekankan adalah BEM SI, karena namanya yang terdengar hebat di telinga entah di mata nyatanya bagaimana, mau tidak mau dijadikan salah satu referensi masyarakat untuk melihat sikap mahasiswa terhadap isu-isu nasional yang merebak. Sehingga, perwajahan BEM SI harus sesuai dengan tugas mahasiswa dalam mengawal kebijakan pemerintah dan kepribadian yang idealnya dimiliki oleh mahasiswa.

Usut punya usut, yang diributkan pada malam hari kemarin hingga sekarang, ternyata bukan si BEM SI, melainkan istilah baru yang disebut dengan korpus itu. Korpus merupakan singkatan dari koordinator pusat. Istilah “korpus BEM SI” secara gamblang menunjukkan posisinya di BEM SI. Lantas, apakah menjadi korpus BEM SI itu keren? Apakah menjadi korpus BEM SI akan menciptakan sebuah keuntungan atau peluang bagi KM ITB? Dari pertanyaan-pertanyaan ini, ada baiknya kita mundur sejenak untuk mengetahui tugas dan wewenang dari korpus BEM SI. Seperti wadah-wadah lainnya, BEM SI pasti punya namanya rapat dan musyawarah. Salah satunya adalah Musyawarah Nasional (Munas),  sebuah forum tertinggi BEM SI sebagai ajang pertanggungjawaban, pelantikan pengurus dan anggota baru, serta pembahasan roadmap BEM SI dalam satu periode. Salah satu agenda dari Munas ini adalah penetapan koordinator pusat BEM SI.

Mengingat bahwa BEM SI merupakan aliansi, status keanggotaan pada BEM SI sendiri tidak jauh berbeda dengan Kongres KM ITB. Ada pun kewajiban dari koordinator pusat BEM SI, dilansir dari SOP BEM SI, antara lain memastikan koordinator wilayah dan koordinator isu untuk bekerja dengan harmonis, memastikan sumber daya pada setiap ekskalasi isu, dan meneruskan isu satu wilayah ke wilayah lainnya. Kemudian, koordinator pusat juga memiliki hak untuk mengikuti negosiasi dengan pihak eksternal yang diselenggarakan pengurus inti, memimpin isu, dan menjadi muka dari BEM SI pada saat liputan media maupun negosiasi dengan lembaga terkait seperti pemerintah.

Maka setelah sejenak mundur ke belakang dengan membaca arti BEM SI dan Korpus BEM SI, mari berpikir lebih dalam dengan kebijaksanaan yang masih kita punya. Tulisan ini sejenak ada, sehingga mengenai kerennya atau keuntungan menjadi korpus, mari tidak membahasnya di tulisan satu ini. Kini, ketika KM ITB telah terlanjur mengambil beban koordinator pusat dan membuat segala pertanyaan dengan cepat meroket ke permukaan, apakah kita akan memutuskan jauh mundur ke belakang atau melangkah sedikit ke depan? Mengapa keributan ini, bahkan di tataran Kongres KM ITB, Ketua Himpunan, dan Kabinet KM ITB, baru terjadi setelah Musyawarah Nasional BEM SI yang ke-11 selesai? Akankah keputusan gaya tahu bulat ini akan mampu membuktikan kualitas KM ITB berikut BEM SI?

Penulis: Tim Redaksi

Sumber gambar: http://poskotanews.com/2017/01/11/bem-si-mau-demo-121/

Komentar