Editorial Featured

Korpus BEM SI yang Mendadak Populer Harus Segera Disikapi (Bagian 2)

Ilustrasi oleh Hana Azalia KR’15

Drama Pemira K3M masih cukup segar dalam ingatan banyak orang ditambah dengan pemilihan PJS MWA WM yang berlarut-larut. Keduanya seperti belum cukup untuk menjadi bumbu kemahasiswaan kita pada pergantian tahun ini. Sebenarnya, semua drama ini tidak terlalu buruk untuk disebut sebagai dinamisasi kemahasiswaan yang mulai sepi. Namun, dinamisasi ini rasanya tidak berjalan dengan memuaskan mengingat beberapa hal berikut.

Pertama, Pemira K3M ITB jauh dari ekspektasi kita. Majunya Presiden PSIK dan Ketua Gamais ITB ternyata hanya membuahkan perang strategi defensif tanpa adanya perang gagasan yang berarti. Kedua, berlanjut pada Pemira MWA WM yang berlanjut menjadi pemilihan PJS MWA WM. Mungkin tidak perlu dijelaskan siapa pihak-pihak tersebut untuk mengatakan adanya dominasi dalam prosesnya. Alhasil, satu pihak yang tak pernah berstrategi menghadapi massa semakin terpuruk. Padahal, bisa jadi ada suara yang bisa diperjuangkan. Sampailah kita pada isu selanjutnya, yang pada malam-malam saat mengerjakan tugas dan rapat tersiar kabar Ketua Kabinet KM ITB, Ahmad Wali Radhi (TA’14) atas nama KM ITB resmi menerima tugas sebagai Koordinator Pusat (Koorpus) BEM SI.

Sontak saja seluruh elitis kampus bergema, ada apa ini kok tiba-tiba?

Sebelum berangkat menuju Riau untuk Musyawarah Nasional (Munas) XI, KM ITB memutuskan tidak akan mengambil amanah sebagai Koorpus BEM SI. Dari kalimat sebelumnya, maka kita dapat berspekulasi bahwa Rabu malam bukan pertama kalinya isu KM ITB punya peluang untuk menjadi Koorpus BEM SI terkuak. Namun, seluruh keributan ini lucunya baru terjadi setelah perwakilan Kabinet KM ITB pulang dari Munas XI BEM SI. Lantas, di mana letak koordinasi di kampus ini?

Saat ini, jajaran Kongres KM ITB yang geram dan massa kampus yang tak kalah hebohnya menuntut diberlakukannya sanksi pada Kabinet KM ITB. Dibandingkan dengan alasan-alasan seperti kesiapan massa dan struktural Kabinet KM ITB, sepertinya massa lebih fokus pada kesalahan praktikal. Misalnya, minimnya komunikasi pada Kongres KM ITB dan tidak adanya informasi yang memadai untuk massa sejak peluang tersebut ada. Persiapan yang serba hemat inilah yang akhirnya membuat massa merasa terpinggirkan dari proses pengambilan keputusan. Jadi, bukankah inti permasalahannya adalah proses pengambilan keputusan untuk menjadi Koorpus BEM SI? Masalah substansi dari Koorpus BEM SI sepertinya bukanlah yang utama dalam perhelatan dinamika kampus saat ini.

Dari Sini, Akan Ke Mana Kita?

Di samping itu, mari sejenak lupakan semua hal yang terlihat serba mendadak ini. Lebih baik berfokus pada masa depan, bagaimana KM ITB (ingat, KM ITB bukan Kabinet KM ITB) dapat menyesuaikan diri dengan status baru ini. Menjadi Koorpus akan menaikkan keterlibatan eksternal kita, membutuhkan proses pengambilan keputusan yang cepat, dan yang paling penting sedikit banyak wajah ITB akan terwakili di dalamnya.

Kita tidak bisa lagi berkata, “Kajian BEM SI masih kurang banget”, “Aksi BEM SI harusnya nggak kayak gini”, atau “ITB bukan BEM SI, gue nggak ngerasa tuh dimintain aspirasi kemarin”. Kita ialah bagian dari sistem ini dan kini kita punya peran besar untuk menggerakkan mahasiswa seluruh Indonesia ke arah pergerakan yang kita inginkan.

There is trade-off of every solution. Tentu saja, di balik hal tersebut ada yang harus dikorbankan. Kita harus merelakan kampus ini kehilangan ‘wajahnya’. Para menko harus rela bekerja lebih keras untuk menciptakan koordinasi dalam kampus yang lebih baik. Namun, seharusnya hal ini tidak terlalu menjadi masalah mengingat era Kabinet Bersama Luar Biasa saat ‘wajah’ KM ITB menghilang. Meski begitu, fungsi Kabinet KM ITB tetap dapat bekerja dengan baik. Tak hanya itu, bagan organisasi yang dipaparkan Wali pada saat uji dengar pun dapat mengakomodasi kebutuhan untuk koordinasi intensif (bila nantinya organogram itu lah yang akan diterapkan). Terlepas dari itu, Kabinet KM ITB tetap harus segera memberikan penjelasan sedetail mungkin kepada massa kampus terkait keputusan tahu bulat ini. Sebab seperti yang kita tahu bahwa keputusan ini ditentang oleh massa kampus melalui senatornya. Jika penjelasan tak kunjung disampaikan, mungkin Kabinet KM ITB tinggal menunggu waktu dan mengorbankan sang presiden menjadi corpus (red- mayat).

Selain itu, Kongres KM ITB juga harus segera berbenah diri. Buang proses yang mungkin menyusahkan dan efektifkan setiap rapat yang ada. Jangan sampai telat merespon isu karena menunggu kuorum atau penarikan aspirasi yang tak kunjung usai masih menjadi kisah lama yang cenderung membosankan. Mekanisme penyikapan dapat ditelaah lebih lanjut mana yang menjadi koridor KM ITB dan koridor BEM SI.

Komunikasi dan hubungan antara Kongres dan Kabinet KM ITB dapat dibuat lebih intim. Kongres KM ITB bukanlah tukang tagih maupun satpam jahat. Kongres KM ITB ialah perpanjangan tangan massa KM ITB. Apa yang terjadi pada saat pembahasan biarlah itu sebagai hubungan profesional berbasis objektivitas, no baper allowed. Ingat, bahwa kita berada di koridor eksternal yang besar, bukan lagi saatnya gontok-gontokan yang tidak perlu.

Terakhir dan terpenting adalah massa KM ITB. Bukan saatnya lebih dari 10.000 mahasiswa S1 ITB untuk apatis. Manfaatkan ini sebaik-baiknya. Masa ini tidak akan mudah. Ditambah ada masa pemilu legislatif dan daerah, yakni Jawa Barat, yang akan segera berlangsung. Wali butuh massa yang senantiasa mendukung, mengoreksi, mengkritik, dan memberi solusi atas apa yang ia bawa. Kritiklah bila tindakannya memang menjurus pada intervensi politik, kritiklah kalau kajiannya tidak sesuai standar, koreksilah bila memang ada yang salah dengan apa yang BEM SI bawa.

Ketahuilah bahwa Kongres KM ITB rela rapat hingga larut malam ketika kita dengan sibuknya mengeluh mengenai tubes. Beberapa rela mengorbankan kesempatan mengikuti lomba untuk memperjuangkan aspirasi-aspirasi. Ya, semua orang memang punya jalan masing-masing. Tetapi, kita tahu bahwa semua punya tujuan yang mulia. Maka, saling mendukung adalah satu langkah menghadapi tantangan masa kini.

Mengutip dari kutipan yang sedang ngetren, “Jadi korpus BEM SI itu berat kamu tidak akan kuat, biar aku saja.” Tapi, ingat juga bahwa saat itu Dilan sedang merayu Milea. Mari kita menjadi Milea yang baik.

Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater.

Merdeka!

Penulis: Tim Redaksi

Komentar