Sastra

Masyarakat yang Lapar

Ilustrasi: Hamdi Alfansuri (PL’15)

Haruskah ada yang menguasai
Memburu, menghantu
Bersemayam dalam diri
Durjana yang menjadikan sebuah takdir niscaya,
satu sama lain bersama yang lainnya saling membutuhkan suapan
Sesendok nasi pun sebongkah berlian masuk dalam kerongkongan
diganjar dengan kata-kata manis, banting tulang, atau sesisa belas kasihan

Kasih seharusnya tumbuh subur menghampar bak permadani di kaki langit
Namun gedung-gedung pencakar langit juga perlu tempat, untuk memakan nurani
Menghalang pandang
Menjadi tembok pembatas antara yang kenyang dan yang lapar

Perih rasanya
Teringat nanti, mungkin sebentar lagi semua makin tinggi dan yang tinggi tidak akan ada tanpa rendah cukup sebagai pembanding
Tolak ukur kesuksesan diatas lahat yang mengubur manusia-manusia yang selalu merasa lapar
Matanya, mulutnya, akalnya terlalu sibuk merasa lapar sampai-sampai kelu bersaksi,
Tidak mendengar perut saudaranya yang dipaksa merintih oleh asasi

Sementara itu,
yang lainnya menjilati jari-jarinya sambil menggerogoti apa saja,
yang berharap semua ini cuma sementara

Masyarakat yang lapar

dan seterusnya.

Penulis: Hanifa Chairunnisa (SF’17)

Komentar