Teknologi Uncategorized

VRAL Fantasy: Visualisasikan Mimpi Fiqie

Perkembangan teknologi digital yang begitu cepat memunculkan inovasi-inovasi yang dapat digunakan oleh pengguna untuk memudahkan keperluan mereka. Salah satu teknologi digital yang saat ini mulai dilirik untuk dikembangkan yaitu Virtual Reality dan Augmentation Reality. Teknologi Augmented Reality atau biasa disebut AR merupakan salah satu teknologi yang diciptakan untuk memberikan pengalaman digital sedekat mungkin bagi pengguna. Teknologi ini adalah gabungan dari objek virtual dan objek nyata, yang bersifat interaktif atau animasi 3D.

Perkembangan teknologi VR dan AR ini dimanfaatkan oleh Fiqie, mahasiswa S1 Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB), untuk membuat suatu usaha bisnis yang berfokus pada penerapan teknologi VR dan AR. Usaha yang sedang dikembangkannya ini diberi nama VRAL dan telah berjalan kurang lebih selama dua tahun.

Dari Lomba Menjadi Bisnis

Mengenai awal mula ide pembuatan VRAL, Fiqie mengungkapkan bahwa dia sempat melakukan KP (Kerja Praktek) di sebuah perusahaan game, “Nah, dari itu terbayang ide untuk mencoba membuat teknologi terkait VR dan AR,” ujar Fiqie. Ide tersebut kemudian dibawa untuk dilombakan dalam sebuah perlombaan entrepeneur tentang fresh modeling di Universitas Indonesia. Di lomba tersebut ia bersama beberapa temannya mendapatkan coaching selama tiga minggu sampai akhirnya mereka mencoba untuk serius menggeluti dan menjadikan idenya sebuah bisnis. Dalam melakukan bisnis salah satu yang perlu diperhatikan adalah pemasukan modal. Hal itu yang membuat Fiqie dan kawan-kawan untuk menerapkan teknologi VR dan AR dalam skala bisnis yang besar yaitu memodelkan suatu bangunan, “Biasanya kan pengembang properti mempromosikan apartemen dengan maket atau gambar. Dari ide itu kita mulai bikin prototype-nya,” ujar Fiqie. Setelah prototype selesai dibuat kemudian diikutsertakan dalam sebuah lomba yang diselenggarakan Nescafe. Melalui lomba tersebut Fiqie dan kawan-kawan merasa bahwa ide yang dibawa mereka ternyata bisa dihargai oleh orang-orang. Sejak itulah mereka mulai ekspansi ke beberapa perusahaan menawarkan ide yang mereka kembangkan.

Suka dan Duka dalam Proses Pengembangan

Dalam usaha untuk meraih sesuatu tentu tidak selamanya berjalan mudah. Ada faktor-faktor yang menjadi penghambat untuk meraih sesuatu. Begitu pula yang dirasakan Fiqie dan kawan-kawan dalam mengembangkan VRAL. Diakui oleh Fiqie bahwa kesulitan yang dihadapinya dalam mengembangkan VRAL ini karena teknologi virtual reality terbilang baru dan belum menjadi perhatian yang besar di masyarakat, “Teknologi ini kan baru dan memang pengembangnya belum banyak. Jadi, kita untuk eksplorasi butuh waktu yang lama,” ungkap Fiqie. Selain itu, kurang terjangkaunya harga dari piranti-piranti VR dan AR yang telah ada juga diakui Fiqie menjadi masalah yang perlu diperhatikan, “Kita juga harus menekan ego agar bisa menampilkan hasil yang maksimal tapi tanpa biaya yang besar,”ujarnya.

Sementara itu, dari sisi pendanaan untuk proyek VRAL ini diakui Fiqie didapatkan dari kompetisi-kompetisi yang diikuti. Selain pendanaan, melalui kompetisi yang diikuti ia juga mendapatkan link orang yang mau membantu mengembangkan idenya. Ada juga proyek-proyek yang diambil oleh mereka. Saat ditanya mengenai bantuan dari pihak kampus, Fiqie mengatakan bahwa belum ada bantuan dari pihak kampus, “Sampai saat ini kita nggak dibantu pihak kampus. Kalau dari perusaahan, ada yaitu Tedi House, salah satu perusahaan lokal berbasis IT di Jakarta yang membantu kami,” ujar Fiqie.

Hasil dan Harapan

Saat ini, beberapa produk dari VRAL sudah digunakan oleh beberapa perusahaan untuk menjadi modeling terhadap konsumen perusahaan tersebut. Ada beberapa produk yang merupakan kerja sama dengan perusahaan akan dikeluarkan namun Fiqie menolak untuk membicarakannya lebih lanjut. Ia juga mengungkapkan bahwa produk tersebut nantinya akan dapat menggeneralisir teknologi virtual reality dan augmentation reality untuk memudahkan penggunanya.

Saat ditanya mengenai rencana ke depan, Fiqie mengungkapkan bahwa bisnis VRAL akan diusahakan untuk terus dilanjutkan setelah dia lulus dari Institut Teknologi Bandung. Hal ini disebabkan telah ada beberapa stakeholder yang mengajaknya untuk berdiskusi tentang pengembangan VRAL. Fiqie berharap VRAL akan bisa menjadi perintis virtual content provider yang merakyat, khususnya di Indonesia. “Kalau harapan ingin jadi pioneer khusunya di Indonesia dari konten virtual reality. Nggak cuma di game atau hardware yang besar. Kita pengen yang merakyat. Jadi kita nggak harus beli hardware-hardware yang mahal,” ujarnya.

Reporter dan Penulis: Maulana Affan dan M Adzky (FMIPA’17)

Sumber foto: Youtube

Komentar