Artikel Berita

Aksi Asik Mengusung Kembali Harapan Reformasi

Foto: Clarissa Fortuna (BW’16)

Dua puluh tahun mungkin terhitung lama, namun tak berarti harapan yang pernah dibawa menjadi sirna. Dua puluh tahun berbagai kepemimpinan yang telah silih berganti sedikit banyak merupakan hasil kontribusi dari reformasi. Meski sudah 20 tahun, peringatan reformasi tak pernah absen dari agenda negeri, khususnya, bagi para mahasiswa. Begitu pula KM ITB. Dengan semangat yang sama, KM ITB bersama mahasiswa-mahasiswa dari berbagai pelosok negeri -yang tergabung dalam BEM SI- menunjukkan semangat reformasi di depan Gedung DPR RI. Teriknya mentari di 21 Mei tak serta merta menurunkan semangat dalam memperingati reformasi.

Mahasiswa-mahasiswa berbalut jaket almamater hijau telah menampakkan kehadirannya di Parkiran Kubus, tepatnya Jalan Ganesha, sejak jam 5 pagi. Ya, persiapan untuk perjalanan yang akan menempuh lebih dari 150 kilometer, jarak Bandung-Jakarta, sedang dilakukan. Sesampainya di Jakarta -tepatnya di Istora Senayan-, kira-kira pukul 12.00 WIB, massa KM ITB langsung membaur dengan massa aksi yang dibaluti warna jaket lainnya.

Diawali dengan lagu “Mengheningkan Cipta”, aksi yang bertajuk Aksi Asik Dua Dekade Reformasi tepat dimulai sekitar jam 2 siang. Aksi Asik Dua Dekade Reformasi diwarnai dengan orasi oleh para Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari beragam universitas, nyanyian lagu-lagu perjuangan, aksi teatrikal, dan sebagainya. Poin utama aksi sendiri disampaikan dalam orasi Ahmad Wali Radhi (TA’14) yang merupakan Ketua Kabinet Keluarga Mahasiswa (K3M) ITB dan Koordinator Pusat BEM SI.
Dalam orasinya, Wali menyampaikan 3 tuntutan yang dibawa pada aksi peringatan reformasi kali ini, yakni: (1) wujudkan kebebasan berdemokrasi yang menjamin penuntasan kasus HAM masa lalu, ruang bersuara dan berserikat rakyat, pemberantasan KKN, dan kembalikan fungsi militer seperti amanat reformasi, (2) pastikan kesejahteraan masyarakat Indonesia, khususnya buruh, pembagian sistem yang jelas antara pemerintah pusat dan daerah, dan pendidikan berkualitas dan terjangkau bagi seluruh kalangan, dan (3) ciptakan ketahanan nasional bidang energi dan pangan untuk Indonesia yang berkelanjutan.

Aksi ini sendiri dilakukan setiap tahun oleh BEM SI, termasuk KM ITB, untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei dan Hari Reformasi pada 21 Mei. Faisal Alviansyah (FI’15), salah satu peserta aksi yang juga merupakan Ketua Kongres KM ITB 2018-2019, mengharapkan pada aksi ini, seperti aksi dua tahun lalu, peserta dapat masuk ke dalam Gedung DPR dan langsung bertemu dengan anggota dewan. “Dengan begitu, kami, KM ITB, dapat memberikan hasil kajian kami sehingga tidak hanya bentukan seremonial di luar yang dapat dilakukan, tetapi jalur konstitusional pun dapat digunakan,” jelas Faisal Alviansyah atau kerap disapa Acle.

Reporter: Clarissa Fortuna (BW’16)
Penulis: Rahma Rizky (EB’16) dan Ardhy Nur (FI’16)

Komentar