Artikel Berita

Mulih Milih Hadir Demi Mahasiswa yang Lebih Melek Politik

Mulih Milih merupakan acara sosialisasi pilkada serentak yang diselenggarakan oleh Kementrian Sosial Politik Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB pada hari Jumat, 1 Juni 2018 di Aula Barat ITB. Acara ini bertujuan untuk membuka wawasan akan pentingnya pendidikan politik dan pilkada sebagai momentum perubahan, terutama bagi mahasiswa. Dalam rangka memenuhi tanggung jawab atas masa depan bangsa, mahasiswa ITB diharapkan sadar akan pentingnya keikutsertaan pemuda dalam Pilkada serentak yang akan diselenggarakan pada tanggal 27 Juni  nanti.

Tema yang diusung dalam acara Mulih Milih adalah Bandung Kini dan Nanti dengan rangkaian acara berupa talkshow dari tiga pasangan calon (paslon) walikota dan wakil walikota Bandung. Talkshow tersebut sendiri bertajuk ‘Peran pemuda dalam menyelesaikan permasalahan Kota Bandung’. Selain talkshow, ada pula pameran peserta lomba creative visual, penampilan peserta lomba orasi, dan seminar oleh Bapak Ir. Johnny Patta, MURP., Ph.D. tentang ‘Pilkada sebagai Momentum Perubahan’.

Talkshow yang menghadirkan tiga paslon walikota dan wakil walikota Bandung tersebut memaparkan beberapa materi. Pertama, ketiga paslon memaparkan permaslahan yang terjadi di Kota Bandung dan bagaimana cara ketiganya mengatasi permasalahan yang ada. Kurang lebih ketiga paslon mengutarakan permasalahan yang hampir sama, yaitu kemacetan, sampah, air bersih, pendidikan, kesehatan, dan tata kota. Ketiga paslon menjabarkan secara rinci program kerja yang akan mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi. Kerja sama dengan masyarakat Kota Bandung, pengadaan infrastruktur, dan penataan kota yang baik sangat ditekankan.

Permasalahan tata kota ini kemudian dijelaskan lebih lanjut mengenai interferensi dan komitmen yang akan paslon lakukan jika terpilih. Ketiga paslon sama-sama menekankan kearah penegakan hukum karena peraturan yang ada sudah sangat bagus, hanya saja kerjasama dengan aparat penegak hukum dan pemerintah daerah di kabupaten sekitar Bandung lah yang harus ditingkatkan. Kawasan Bandung Utara juga sangat dijadikan sorotan karena permasalahan ini dapat menjalar ke berbagai persoalan lain, kemacetan misalnya.

Ketiga paslon diminta menjelaskan tindakan yang akan ketiganya lakukan bila memimpin Kota Bandung. Yana Mulyana selaku calon wakil walikota nomor urut 3 mewakili calon walikota Oded Muhammad Daniel yang berhalangan hadir, menegaskan, “Bandung harus kembali nyaman seperti dulu.” Menurutnya, Kota Bandung yang nyaman tersebut dapat diwujudkan dengan memberlakukan sanksi sosial yang diviralkan kepada warga kota yang melanggar, bukan sanksi rupiah. Berbeda dengan pasangan calon nomor urut 1, Nurul Qomaril Arifin dan Chairul Yaqin Hidayat, lebih  menaruh fokus untuk menurunkan rasio Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Bandung hingga dibawah angka 1. Sementara itu, Aries Supriyatna sebagai calon wakil walikota nomor urut 2, mewakili pasangan calonnya, yaitu Yossi Iriyanti yang juga berhalangan hadir, mengatakan ingin menjadikan Bandung sebagai kota layak huni bagi semua orang, salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan potensi mahasiswa di Bandung, terutama mahasiswa ITB.

Sesi talkshow ditutup dengan pesan paslon kepada mahasiswa dalam rangka akan dilaksanakannya pilkada. Ketiga paslon berharap mahasiswa bersikap objektif, tidak apatis dalam memanfaatkan momentum perubahan yang ada, dan tidak lupa untuk merasa senang terkait keikutsertannya dalam pesta demokrasi.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan peserta lomba orasi dan seminar Johnny Patta, salah satu dosen Planologi tentang Pilkada sebagai Momentum Perubahan. Artinya, mahasiswa harus berani bersuara dalam politik di zaman yang sudah memfasilitasi mahasiswa untuk bersikap diplomatis ini.

“Mulih Milih sendiri merupakan bentukan acara yang pertama kali mengundang langsung pasangan calon. Sebelumnya, KM ITB belum pernah mengundang paslon hadir ke ITB seperti ini,” ungkap Yulida selaku Mulih Milih. Dengan adanya acara Mulih Milih yang menghadirkan langsung calon pemimpin, diharapkan  mahasiswa menjadi lebih melek politik. Pandangan negatif akan orang yang mengetahui politik juga diharapkan hilang karena sesungguhnya peduli politik merupakan hal positif. Menyentuh politik akan sangat berkaitan erat dengan kehidupan mahasiswa di masa mendatang. Arti netral secara politik juga harus dipertegas. Netral bukan berarti tidak peduli dan tidak tahu, sehingga publikasi pasangan calon yang akan menjadi pemimpin daerah, dimulai dari cakupan kota, tentunya sangat diperlukan. Untuk Bandung, kini dan nanti.

Reporter: Hanifa Chairunnisa (STF’17), Rona Atikah (STF’17), Ruhkhis Muhtadin (PL’16)
Penulis: Hanifa Chairunnisa (STF’17)

Komentar