Artikel Berita

OSKM ITB 2018, Langkah Awal Membentuk Mahasiswa Pemrakarsa Pembangunan Bangsa

Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa (OSKM) ITB pada dasarnya sebagai ajang pembuktian diri mahasiswa ITB untuk berkembang melampui batas mereka. Seperti mahasiswa dari jurusan Teknik Industri dan jurusan lainnya bisa belajar menjadi Medik di OSKM ini dan kepanitiaan lainnya. Selain menjadi ajang pembuktian, OSKM ITB adalah wajah awal untuk lebih mengenal ITB dan pernak-pernik kemahasiswaan di ITB itu sendiri. Lalu, ada apa di OSKM ITB tahun ini? Apa yang membuatnya spesial?

Simak hasil wawancara tim Boulevard dengan Ketua OSKM ITB 2018, Muhammad Rory Abduljabbar (GD’15).

Menurut Rory, apa sih OSKM itu?
OSKM itu sendiri sebenarnya memiliki dua poin besar, yaitu sebagai penyambutan dan sebagai orientasi atau pengenalan kemahasiswaan kita di kampus. Mahasiswa baru sudah sepatutnya disambut oleh kita, mengingat perjuangan mereka di SBMPTN dan SNMPTN adalah perjuangan yang besar. Selain itu, penyambutan, secara tidak langsung, adalah arahan dari rektorat.

Kebutuhan kedua yakni sebagai pengenalan kemahasiswaan kampus. Ada dua poin tersendiri mengenai pengenalan kemahasiswaan di kampus. Pertama, pengenalan diri secara kemahasiswaan. Poin ini sebenarnya mengenalkan mahasiswa secara umum, yakni sebagai mahasiswa akan memiliki beban berlebih. Dengan harapan akan menyadari kalau dia bukan siswa lagi. Dia adalah mahasiswa, dia bukan cuma masyarakat biasa sehingga dia punya beban moral untuk bisa kembali kepada bangsanya.

Kemudian, terkait kemahasiswaan di kampus, mahasiswa baru juga perlu mengenal KM ITB. Setelah mengetahui bahwa ia mahasiswa yang punya beban moral dan sebagainya, dia pun harus tahu bahwa dirinya ada di lingkup kampus ITB. Maka, dia harus bisa memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya, yakni ITB sendiri. Entah itu KM, Kabinet, Kongres, HMJ, MWA WM, dan kekaryaan-kekaryaan lain, seperti unit-unit atau BSM-BSM. Pokoknya, bagaimana dia bisa mengenal kemahasiswaan yang ada ITB.

Jika dirangkum, apa hal-hal yang krusial dalam OSKM?
Pertama, penyambutan dan dilanjutkan dengan pengucapan selamat. Kedua, pengenalan kemahasiswaan ITB. Sebagai mahasiswa harus sadar bahwa dia memiliki tanggungan lebih, sudah bukan siswa lagi. Dengan begitu, dia bisa memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan, seperti: kenapa dia mahasiwa.

Dua hal tersebut sangat mendasar, tetapi krusial. Sebab, ketika mahasiswa baru tidak disambut, yang dicap jelek pasti kakak-kakaknya karena tidak apresiasi dan sebagainya. Hal tersebut akan berimbas pula pada semangat menjalani kuliah, passion untuk bergerak. Ada pun, poin kemahasiswaan juga penting. Ketika dia tidak diajarkan hal-hal ini, dia akan menjadi mahasiswa yang “kosong”, mahasiswa yang sebenarnya tidak tahu kalau dia ini mahasiswa sehingga apa-apa yang diberikan menjadi nol besar, menjadi percuma.

Tiga kata yang menggambarkan OSKM 2018: bermanfaat dan menyenangkan.

Apa saja nilai yang dibawa oleh OSKM tahun ini?
Visi OSKM kali ini adalah sebagai sarana inisiasi pembentuk mahasiswa nirmala pemrakarsa pembangunan bangsa. Nirmala di sini, secara bahasa, yaitu tanpa celah, tanpa dosa. Intinya, sebuah kemurnian tanpa dosa. Nah, tetapi arti kata ini memang begitu tinggi. Sebab, siapa sih yang tanpa dosa? Akhirnya, pengartian mahasiwa nirmala ini adalah sebagai pengharapan. Mahasiwa ini bisa menjadi mahasiwa yang seutuhnya, mahasiwa yang memang benar-benar mahasiwa tanpa dia mengesampingkan kalau dia ini mahasiwa. Seperti, “Oh, kalau saya mahasiwa, berarti saya harus begini-begini, dan saya tidak boleh seperti ini-seperti ini”.

Di OSKM 2018, saya ingin mencoba untuk menekankan bagian bahwa dia (mahasiswa baru-red) benar-benar menjadi seorang mahasiwa yang seutuhnya, bisa menilik alasan dibentuknya suatu bagian sistem yang bernama mahasiwa. Jawabannya sebenarnya ada dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Dari situ ditarik kesimpulan bahwa perguruan tinggi ini punya tugas kepada negara untuk bisa melakukan pendidikan, penelitian kepada bangsa, dan pengabdian kepada masyarakat. Nah, mahasiswa, ketika dia memang sadar bahwa dia mahasiswa, harusnya dia bisa berorientasi kepada hal itu.

Harapannya, jangan lagi ada mahasiswa yang hanya berpendidikan, padahal ada hal lain yang mestinya dia lakukan juga sehingga dia tidak hanya kuliah-pulang kuliah-pulang. Karena melihat kebelakang, ya masih banyak yang disibukkan di satu hal, padahal ternyata dia punya hal lainnya (yang harus dilakukan). Di sini saya mencoba membuka lebih pikiran para mahasiswa baru, membuka kesadaran mereka bahwa kita ini mahasiswa. Kita memang memiliki tanggungan banyak dan mungkin capek di satu sisi, tetapi kita tidak boleh menyerah.

Rory-1

Jika dibandingkan dengan tahun lalu, apa hal-hal yang sama dan berbeda di OSKM 2018?
Karena kebutuhana tidak jauh berbeda dengan OSKM tahun lalu, banyak hal yang diadopsi, seperti: Open House Unit (OHU) dan interaksi fakultas. Ada pun, hal yang baru di OSKM tahun ini adalah saya mencoba mengangkat tentang Trisakti Soekarno di bidang ekonomi, sosial-budaya, dan sosial-politik. Untuk saat ini, di kabinet sendiri sudah ada sospol, sosmas dan karya. Saya pun mencoba mengangkat dua yang lain, yaitu budaya dan ekonomi.

Saya hanya mencoba memberi pemahaman kepada mahasiswa-mahasiswa baru nanti, serta peserta-peserta diklat, bahwa bidang-bidang yang bisa kita majukan di Indonesia sangat lah banyak, tidak hanya tiga hal tadi. Saya mencoba membuka awareness mereka akan hal tersebut. Setelah OSKM, awareness mereka menjadi lebih luas. Ternyata apa yang bisa dilakukan tidak mentok di tiga hal ini, tetapi jugabisa di dua hal lainnya.

Dua bidang “baru” ini juga didukung oleh KM ITB. Ada banyak unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang menaungi bidang sosial budaya dan sosial ekonomi. Di sosial budaya ada berbagai unit rumpun seni budaya, dan dari situ mereka bisa belajar bagaimana mengapresiasi kebudayaan dan mengambil nilai dasar dari kebudayaan itu sendiri. Kemudian, dalam bidang sosial ekonomi ada TEC, serta keprofesian dari SBM. Jadi, jika kita membuka pikiran lebih luas lagi, ada banyak cara untuk memajukan bangsa. Bukan cuma dari tiga itu. Tambahan, di ITB ini juga ada infrastruktur yang mendukung bidang olahraga.

Di mata Rory, seberapa penting OSKM dalam pengenalan KM ITB dan ITB?
Penting banget. Kalau misalnya tidak ada OSKM di tahun pertama, mereka akan terhambat nantinya. Banyak poin-poin yang hilang ketika, misalnya, mereka bisa kenal (ITB) dalam tiga hari ini, satu tahun full ke depan mereka bisa eksplor lebih jauh. Ketika tidak ada OSKM, misalnya materi-materi yang ada di OSKM, seperti pengenalan kampus, pengenalan fakultas, dsb. kita pecah di 3 bulan pertama mereka TPB, mereka baru bisa mengeksplor setelahnya. Menurut saya, ada begitu banyak harga yang hilang akhirnya. Itu sih, akhirnya kenapa OSKM ini penting.

Dengan OSKM, kita punya bargaining,dan mahasiswa baru pasti akan lebih suka ikut OSKM karena hanya dilaksanakan tiga hari. Terlebih, OSKM berlangsung di awal perkuliahan sehingga hype-nya masih tinggi. Kalau dipecah, mungkin tiga bulan pertama mereka semangat, sedangkan tiga bulan berikutnya gimana? Nah, itu kan.

Istilahnya, masa-masa optimum mereka mau melakukan sesuatu ya di OSKM. Penjaminan ketika 6 bulan dan nggak ada yang megang terpusat, atau kalau misalnya dipecah ke 12 fakultas, kontrolnya akan menjadi lebih susah. Dari skala 1 sampai 4, tentu 4; sangat penting.

Apa pesan untuk para mahasiswa baru?
Semangat menjalani perkuliahan. Semoga yang didapat di OSKM dan bulan-bulan awal di Bandung bisa mendukung dan berguna bagi kalian ke depannya, terhadap diri sendiri, bangsa, dan almamater.

Narasumber: Muhammad Rory (GD’15)
Reporter: Anandhika Arifianto (PL’16), Amaliyah Nurul (STF’17)
Penulis: Rahma Rizky (EB’16), Adella Nur (FI’17), Amaliyah Nurul (STF’17)

Komentar