Artikel Kencan Kuliner

Di Balik Bisnis Ayam Geprek Crisbar

Berbagai jenis makanan baru muncul dan menjadi tren di masyarakat. Begitu pula dengan jenis makanan yang satu ini, yakni ayam geprek. Salah satu ayam geprek yang tidak asing di telinga mahasiswa Kampus Gajah ialah Ayam Geprek Crisbar. Usut punya usut, Ayam Geprek Crisbar ternyata didirikan oleh dua mahasiswa Manajemen ITB 2016, Filbert dan Hafizh Ihsanuddin.

Sesuai pengakuan Hafizh, usaha ini mereka rintis sejak 27 Agustus 2017 tepat saat mereka menginjak semester empat. Saat itu, Filbert mengajak Hafizh untuk mencoba mendirikan usaha. Hafizh pun berinisiatif untuk mendirikan usaha berupa ayam geprek, sebab ayam geprek sendiri berasal dari kota asalnya, Yogyakarta.

Dari Kota Pelajar, ide ayam geprek dibawa ke Bandung. Tamansari Foodfest alias Tamfest merupakan tempat pertama kali mereka mendirikan Ayam Geprek Crisbar. Menurut keterangan yang diberikan Hafizh, bisnis ini sebenarnya tidak begitu direncanakan dan saat pertama kali berdiri, usaha ayam geprek ini sangat sederhana. Keduanya juga mengaku bahwa pada saat itu, mereka sama sekali tidak dapat memasak ayam geprek dan hanya mengetahui resep dasarnya saja.

Di balik ide yang sederhana, terdapat pula motivasi yang sederhana. Makan siang gratis merupakan salah satu motivasi mereka dalam mendirikan usaha ini. Didukung lokasi Tamfest yang berada tepat di depan Gedung Manajemen ITB, kini makan siang gratis benar-benar menjadi rutinitas bagi mereka berdua.

Awal Perjalanan Crisbar
Pada bulan pertama kurang lebih dua ratus hingga tiga ratus porsi Ayam Geprek Crisbar berhasil terjual, hasilnya kemudian mereka gunakan untuk membeli gerobak pertama. Pada bulan kedua cabang pertama dibuka di Ganesha. Tak lama setelahnya, tepatnya pada bulan ketiga dan keempat, cabang baru dibuka. Cisitu ialah tempat yang dipilih sebagai target strategis selanjutnya.Crisbar kemudian membuka sayap pemasarannya lebih jauh. Pada bulan kelima cabang baru di Cimahi didirikan. Dilanjutkan dengan pembukaan cabang di wilayah Universitas Telkom pada bulan keenam, dan cabang di Maranata serta Buah Batu pada bulan ketujuh. Penghasilan dari pendirian Crisbar selama

Crisbar kemudian membuka sayap pemasarannya lebih jauh. Pada bulan kelima cabang baru di Cimahi didirikan. Dilanjutkan dengan pembukaan cabang di wilayah Universitas Telkom pada bulan keenam, dan cabang di Maranata serta Buah Batu pada bulan ketujuh. Penghasilan dari pendirian Crisbar selama dua bulan pertama digunaman untuk modal membuka cabang dan membeli alat-alat baru.

Ada pun modal awal Crisbar bersumber dari uang pribadi keduanya. Kebetulan, Filbert saat itu membuka les kecil-kecilan untuk adik tingkat. Hasil usaha les tersebut dialokasikan secara penuh untuk modal usaha Crisbar. Hafizh dan Filbert mengaku modal awal yang mereka gunakan kurang lebih lima belas juta untuk berdua.

Crisbar Saat Ini
Saat ini, revenue rata-rata per bulan yang mereka peroleh ialah sekitar empat puluh hingga lima puluh juta untuk satu cabang. Kemudian, revenue tertinggi yang pernah didapat selama ini kurang lebih seratus juta, terjadi pada saat banyak permintaan. Total karyawan yang mereka miliki adalah 25 orang dan rata-rata berasal dari Bandung. Kini mereka sudah memiliki

Total karyawan yang mereka miliki adalah 25 orang dan rata-rata berasal dari Bandung. Kini mereka sudah memiliki pemasok langganan akan tetapi mereka terus berusaha untuk mencari pemasok yang terbaik baik dari segi harga maupun kualitas.

20180529_114801

Hafizh dan Filbert, pemilik usaha Ayam Geprek Crisbar

Belajar Berbisnis dari Crisbar
Hafizh dan Filbert memiliki mindset berbunyi, “Menyediakan dan berusaha mendapatkan apa yang dibutuhkan.” Mindset ini membuat modal yang digunakan dapat teralokasi secara efisien. Hal yang paling penting dalam berbisnis menurut keduanya adalah selalu melakukan evaluasi dan perbaikan.

Kendala utama yang mereka hadapi dalam usaha ini berkaitan dengan orang kepercayaan, lemahnya ketelitian, dan adanya gangguan. Ketelitian dibutuhkan dalam memosisikan orang dalam bekerja. Jika posisinya tidak sesuai, biasanya akan memicu masalah dalam usaha. Hafizh menjelaskan untuk gangguan yang dialami biasanya muncul dari eksternal seperti preman yang sering memberi ancaman dan bertingkah semena-mena.

Hafizh menyatakan bahwa kesuksesan bisnis ialah ketika kesempatan bertemu dengan persiapan. “Untuk memulai bisnis tidak perlu teoritis, melainkan awali dengan hal kecil. Hal ini juga akan memudahkan pengusaha dalam menghadapi risiko ke depannya. Jangan takut salah. Mahasiswa itu masih belajar, melakukan kesalahan itu wajar bahkan memiliki dampak yang baik untuk ke depannya,” terang Hafizh. Hafizh juga menyarankan untuk memulai bisnis sedini mungkin. Sebab, pada dasarnya masa depan itu dapat dicicil, lebih cepat lebih baik. Ada pun untuk memulai bisnis, dapat diawali dengan membuat Bisnis Model Kanvas.

Hafizh juga menyarankan untuk memulai bisnis sedini mungkin. Untuk memulai bisnis, dapat diawali dengan membuat Bisnis Model Kanvas. “Alat ini sangat sederhana dan cukup efektif. Selain itu, kita juga harus tahu dengan pasti bagaimana gambaran keberjalanan bisnis yang akan kita dirikan. Hal ini akan membuat apa yang kita lakukan menjadi lebih efisien,” tutup Hafizh.

Penulis dan Reporter: Astri Liyawati (MB’20)

Komentar