Berita Kampus Kilas

Lokakarya Inovasi: Lebih Mengenal Smart City

Pada tanggal 28 November 2018 berlangsung Lokakarya Inovasi yang bertemakan smart city yang dibawakan oleh mahasiswa dari IMA-G bernama Fitra Ferbina sebagai moderator. Lokakarya Inovasi adalah sebuah seminar dengan diskusi publik. Dalam acara tersebut terdapat dua pembicara yaitu Bernard Renardi dari Himpunan Mahasiswa Fisika Teknik (HMFT) ITB dan Fitrah Ramadhan dari Himpunan Mahasiswa Planologi Pangripta Loka (HMP Pangripta Loka) ITB. Acara ini dibuka dengan kata sambutan dari penanggung jawab acara dan dilanjutkan dengan perkenalan pembicara.

341895

Pembicara pertama yaitu Fitrah Ramadhan menjelaskan arti dari smart city atau disebut juga  future city. Future city mencerminkan visi atau tujuan dari masyarakat terkait karakteristik kota seperti bagaimana fungsinya, sistem seperti apa yang akan digunakan, dan bagaimana kota tersebut berinteraksi dengan masyarakat, pemerintah, dan lingkungan usaha. Fitrah juga membahas mengenai keadaan Bandung sebagai smart city dan ia memberikan beberapa masalah utama yang sedang dialami Bandung antara lain adalah misinterpretasi branding Bandung dalam mewujudkan smart city, aplikasi kota Bandung yang tidak efisien jumlahnya dan asimetri informasi yang tersebar. Ia memberikan contoh keadaan Bandung sebagai smart city berupa kejadian-kejadian di Bandung. Ia mengambil kesimpulan bahwa Bandung belum mewujudkan smart city untuk seluruh masyarakatnya.

341892

Pembicara kedua yaitu Bernard Renardi. Ia memberikan gambaran tentang komponen komponen smart city, cara mewujudkan smart city, dan proses terbentuknya smart city. Ia juga memaparkan dua sudut pandang dalam terbentuknya suatu smart city, Widjojonomic dan Habibienomic, dimana kedua sudut pandang tersebut bertentangan. Ia memberikan contoh seperti kota Seoul yang terbentuk dengan sudut pandang Habibienomics.

Setelah kedua pembicara menyelesaikan penyampaian materi. Moderator membuka sesi tanya jawab. Ada beberapa peserta yang bertanya, salah satu pertanyaannya adalah pertanyaan yang diberikan oleh mahasiswa dari HMP Pangripta Loka ITB, ia bertanya apakah kita harus membuat smart city terlebih dahulu atau memberikan pencerdasan kepada masyarakat mengenai smart city. Bernard Renardi menjawab bahwa jawabannya tergantung dengan kondisi kotanya, bila masyarakatnya sudah siap maka dapat membuat smart city terlebih dahulu lalu masyarakat akan beradaptasi terhadap lingkungan yang baru. Fitrah Ramadhan menjawab bahwa keadaan tersebut tergantung tujuan dari dibuatnya smart city, dengan tujuan yang baik maka masyarakatnya juga akan mendapatan pencerdasan seiring dengan dibuatnya smart city.

Reporter: Sebastian Anthony (STEI’18), Audrey Xaveria (FTI’18)
Penulis: Sebastian Anthony (STEI’18)

Komentar