Berita Featured Kampus

Seleksi Mandiri ITB: Lagu Lama Cari Dana

Ilustrasi: Theresa Triyessy (SAPPK’18)

Salah satu band masa kecil, Sheila On 7 masuk ke dalam daftar artis yang lagunya paling banyak diputar di Spotify tahun 2018. Rupanya, sekarang memang masa-masanya untuk memutar lagu lama dan bernostalgia. Pun, Sang Ganesha menjadi salah satu pihak yang mengamini hal tersebut. Tahu lagu favoritnya? Ya, lagu lama berjudul USM ITB yang kini di-remix menjadi Seleksi Mandiri ITB. Kedua lagu tersebut terinspirasi dari hal yang sama, yakni krisis dana. Isi kisahnya pun sama, tetapi balutannya berbeda. Lantas, apa yang membuat Sang Ganesha memutar kembali lagu tersebut padahal dahulu ia sebut tidak efisien? Bagaimana sejatinya kisah yang ditulis dalam lagu itu?

Kemunculan USM 2003
Tahun-tahun sebelum 2003, kursi mahasiswa ITB hanya dapat diisi oleh mahasiswa yang masuk melalui jalur SPMB atau yang sekarang dikenal sebagai SBMPTN. Kemudian, pada tahun 2003 ITB mulai merasa kekurangan kas alias butuh duit. ITB pun memunculkan sebuah jalur masuk yang menyaingi SPMB, yakni Ujian Saringan Masuk Penelusuran Minat, Bakat, dan Potensi  (USM SPMB). Sistem dari USM SPMB yang dilaksanakan berupa tes tidak bernilai cuma-cuma. USM SPMB sempat membuat geger karena patokan harga yang dipasang ITB tidaklah sedikit, melainkan sejumlah 45 juta rupiah.

Keributan di tahun 2003 pun berlanjut, salah satunya disebabkan oleh jumlah kursi USM yang terus bertambah hingga melampaui jumlah kursi untuk jalur SPMB/SNMPTN pada 2008. “Kami meningkatkan persentase USM tentu berdasarkan analisis yang telah kami lakukan, kami dapatkan bahwa peminat USM dari tahun ke tahun semakin meningkat. Oleh karena itu, kami tambahkan kursi untuk peminat USM,” terang Adang Surachman selaku WRAM ITB saat itu kepada reporter Boulevard. Selain itu, ITB juga merasa tidak cocok dengan soal SPMB yang bersifat kognitif sehingga dimunculkanlah tahapan tes USM yang dianggap sebagai alat yang tepat untuk mengukur kemampuan mahasiswa.

Tentu saja, ITB menginginkan mahasiswa yang berkemampuan cerdas dan siap terdidik dan jebolan dari SPMB belum mampu memenuhi kualitas mahasiswa yang diharapkan oleh ITB. Meski begitu, masih banyak memang yang beranggapan bahwa jebolan USM tidak memiliki standar yang lebih tinggi dari jebolan SPMB, atau dengan kalimat lain bahwa USM ITB hanya bermodal duit. Hal tersebut pun dibantah tegas oleh ITB, sebab ITB memiliki standar yang tinggi untuk USM. ITB menyatakan bahwa USM dapat dianggap sebagai jalur masuk bagi orang-orang berduit. ITB juga menyatakan bahwa di USM ini tidak menutup kemungkinan bahwa orang dengan kemampuan ekonomi rendah. Namun nyatanya, untuk membeli formulir USM saat itu, para peserta harus merogoh kocek sebesar 600 ribu rupiah.

Ketiadaan USM
Pada tahun 2011 ITB menutup jalur USM sebagai gerbang masuk ITB. ITB hanya menerima mahasiswa melalui jalur SBMPTN dan SBMPTN. Hal tersebut didasarkan pada pertimbangan mengenai kualitas mahasiswa. Dilansir dari majalah Boulevard edisi 74 tahun 2013, menurut Mindriany Syafila selaku perwakilan dari Direktur Pendidikan ITB saat itu, ITB akan tetap mengutamakan kualitas mahasiswanya sehingga tidak akan mengadakan seleksi mandiri. “Seleksi mandiri kan diadakan terakhir, jadi kemungkinan sudah sisa dari SNMPTN dan SBMPTN. ITB ingin menerima mahasiswa yang memang minat dan memprioritaskan ITB,” tambah Mindri ketika ditanya alasan ITB hanya membuka dua jalur saja.

Kemunculan SM 2019
Tujuh tahun setelah ditutupnya jalur mandiri, ITB mengumumkan bahwa akan kembali membuka jalur mandiri yang kini bernama Seleksi Mandiri (SM) ITB. Dilansir dari portal berita Pikiran Rakyat, Mindriany Syafila selaku Direktur Eksekutif Pengelolaan Penerimaan Mahasiswa dan Kerja Sama Pendidikan menyatakan bahwa adanya seleksi mandiri ini disebabkan banyaknya peserta SNMPTN dan SBMPTN yang memiliki nilai tinggi, tetapi tersisihkan atau tak lulus. Jika ditilik kembali, pernyataan ITB di tahun 2013 soal kualitas mahasiswa dan prioritasnya seakan-akan terlupakan begitu saja. Mungkin kita harus mulai memaklumi kondisi Sang Ganesha ini yang semakin tua. Sebab, konon katanya, semakin tua seseorang membuat ia semakin rentan terserang penyakit pikun.

Penulis: Efri Liana (FMIPA’18), Rahma Rizky (EB’16)

Komentar