Sastra

Sad Hour: OPEN

Ilustrasi: Bunga Sausan (FSRD’18)

Dia adalah seorang muda,
hidup di tengah masyarakat,
mengikuti segala norma dan standar,
tak pernah mempertanyakan.
Dia adalah seorang muda,
penuh kuriositas dan rasa ingin tahu.

Dia adalah seorang muda,
penyuka minuman berkafein dan tempat bergengsi.
Dia adalah seorang muda
yang mendengar ada kafe baru di kotanya.

Dia adalah seorang muda,
pengikut tren masa kini.
Dia adalah seorang muda,
yang tak ingin tertinggal.

Pada akhirnya, ia pergi,
pergi ke kafe yang dimaksud,
kafe serba biru yang tak sesuai harapan,
suasananya suram dan muram.
Dia bingung,
bintang lima dari mananya?

Dia melihat,
orang-orang berduka,
kenestapaan di mana-mana.
Ini yang disebut bintang lima?

Dia melihat
di ujung sana ada seorang gadis
dengan bekas luka sayat di lengannya.
Kafe ini penuh orang gila?

Dia melihat,
ada artis di ujung sana
dengan pesona yang berbeda
tanpa senyum dan dandanan.
Orang-orang di sini tak sadar
dan tak mengajak foto bersama?

Dia melihat orang lain masuk ke dalam,
dengan senyum sebelum pintu terdorong,
mulut tertekuk ke bawah setelah di dalam.
Orang-orang di sini bermuka dua?

Dia melihat lagi ada yang keluar,
dengan mata tak hidup sebelum pintu ditarik,
lalu mukanya berseri cerah kembali.
Orang-orang di sini kelainan jiwa?

Dia tak paham dan merasa ngeri,
dia keluar tanpa memesan
lebih-lebih memberikan tip.
Tak paham.

Penulis: Claresta Evadne (FTI’18)

Komentar