Berita Kampus

Pemira 2018: Pertandingan Tiada Ujung

Ilustrasi: Irza Sanika (MT’17)

Kisah ini dimulai tepat pada 25 Oktober 2018, ketika sebuah olimpiade berjudul Pemilu Raya (Pemira) KM ITB 2018 diselenggarakan. Ada empat sosok harapan mendaftarkan diri mengikuti pertandingan di bidang K3M, sebut saja begitu. Karena satu dan lain hal, pertandingan yang bahkan belum dimulai hanya menyisakan dua sosok. Setelah beberapa rintangan dilalui bersama, salah seorang dari keduanya memutuskan untuk menyerah dalam pertandingan merebut gelar kepala keluarga mahasiswa. Alhasil, pertandingan tak dapat dilanjutkan hingga munculnya sosok lain. Tak lama kemudian, seorang pemberani yang lain hadir dan pertandingan diteruskan. Tetapi, sosok lain tersebut mengalami cedera di tengah-tengah pertandingan dan pertandingan terpaksa diberhentikan kembali. Di samping itu, pertandingan di bidang MWA WM masih terhenti di pendaftaran. Lantas, dapatkah pertandingan tersebut dilanjutkan?

Simak kisah lengkapnya sebagai berikut.

Pemira, lagi-lagi, menuai masalah. Sudah dua kali menempuh masa penangguhan dan lima kali dilakukan perpanjangan berkas, K3M pun tak kunjung resmi didapatkan. Mulanya, ada empat nama, yakni: Nadia Gisma (PL’15), Royyan Dzakiy (IF’15), Nurhilman Fauzan (TL’15), dan Ilma Herwandi (TM’15) mengambil berkas pencalonan K3M. Hanya Nadia dan Royyan yang mengembalikan berkas pencalonan. Tetapi, verifikasi tidak dapat dilakukan karena Nadia tidak hadir dalam prosesnya. Pemira K3M pun gagal dilanjutkan, terlebih Pemira MWA WM yang tidak memunculkan satu nama pun.

Selepas berbagai drama tentang tarik menarik berkas, masa perpanjangan berkas, dan masa penangguhan dilalui, Pemira KM ITB kembali menemukan jalan dengan munculnya dua nama untuk masing-masing K3M dan MWA WM. Faris Makarim (EP’15) dan Royyan Dzakiy (IF’15) lolos verifikasi dan dinyatakan sebagai calon K3M. Sedangkan, Dancent Sutanto (MA’15) dan Faisal Alviansyah (FI’15) masih berstatus sebagai bakal calon MWA WM karena hanya mengambil dan belum mengembalikan berkas.

Pemira pun memasuki masa favoritnya, masa penangguhan, sampai tahun baru menyambut. Pada 14 Januari 2019 Pemira kembali dibuka, masa kampanye untuk kandidat K3M dimulai. Sementara itu, Pemira MWA WM masih menunggu setidaknya satu nama sebagai calon. Beberapa hearing telah dilakukan, baik di Ganesha maupun di Jatinangor. Hearing tidak berjalan dengan baik, sebab tidak pernah tercapainya kuorum. Bahkan, Hearing Zona Barat harus dibatalkan. Di tengah-tengah masa hearing dan kampanye, Faris Makarim secara mendadak menyatakan mengundurkan diri dari pencalonan K3M.

Tepat pada 26 Januari 2019, Faris mengirimkan surat pengunduran diri kepada Kongres KM ITB. Dilansir dari Press Release Kongres KM ITB tentang Tindak Lanjut Pemira KM ITB 2018, alasan pengunduran diri Faris ialah (1) tidak terpenuhinya tantangan dari Ikatan Mahasiswa Geodesi (IMG) ITB saat Hearing Zona Selatan, dan (2) adanya krisis batin di dalam diri kandidat. Kongres KM ITB menyetujui pengunduruan diri Faris berdasarkan alasan nomor (2). Untuk kesekian kalinya, Pemira K3M tidak dapat dilanjutkan dan akan ditindaklanjuti oleh Kongres. Ada pun, Pemira MWA WM telah dibekukan sejak 18 Januari 2019.

Kongres pun melakukan penarikan aspirasi lewat senator-senatornya terkait tindak lanjut dari Pemira K3M. Setelah dikaji, muncul lah sebuah kesepakatan untuk melanjutkan pemilihan K3M dengan opsi 1 calon melawan kotak kosong. Untuk mekanismenya sendiri masih dibahas oleh Kongres.

Dari kondisi Pemira, tak dapat dielakkan bahwa bingung, sedih, heran, dan kecewa menyelimuti suasana KM ITB kini. Tak menyangkal juga bahwa sebagian besar dari -yang katanya- keluarga menutup mata dan telinganya akan kondisi dari kemelut yang tak berkesudahan ini. Penangguhan yang tiada ujung, terpasung oleh masalah yang kian merundung, dan pembahasan yang mengapung-apung, serta tanpa massa yang turut bergabung membuat Pemira ini seakan tak berujung. Mari sejenak merenung, mau sampai kapan Pemira akan berkabung? Lantas, masih pantaskah KM ITB dijunjung?

Penulis: Rahma Rizky (EB’16), Ardhy Nur (FI’16)

Komentar