Sastra

Membuat Mamah Bangga

Ilustrasi: Amaliyah Nurul (STF’17)

Semua orang pernah merasa tersesat, baik saat menuju ke suatu tempat maupun saat berkelana dalam pikiran sendiri. Dan itulah yang aku rasakan sekarang. Entah aku yang lemah atau memang pembelajaran yang tengah ku tempuh cukup berat, yang aku tahu sekarang aku hanya ingin tidur, bukannya mendekam di pojok kafe yang sesuai dengan sisa uang bulananku ini.

Hampir satu jam aku duduk di sini melakukan riset mengenai dua kandidat yang lain, namun kepalaku masih belum menemukan ide yang benar-benar pas. Ku baca kembali beberapa hal yang sempat ku tuliskan di kertas putih, menganalisis visi, misi, dan program mereka yang belum sempurna. Memutuskan harus mencomot dan menyempurnakan yang mana, atau malah menjadikannya bumerang untuk berbalik menyerang.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Mamah. Satu kata itu yang langsung ditangkap kornea mataku. Sedetik-dua detik-tiga detik. Aku memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut, tetapi tidak ingin memulai pembicaraan lebih dahulu.

Halo, Dek? Apa kabar?” Mamah memulai perbincangan dari seberang sana dengan logat Sulawesinya yang tidak pernah ketinggalan.

Bae-bae, Mah. Maaf jarang batelepon.

Begimana ngana pe kuliah?

Bae-bae, Mah,” suaraku tercekat sebentar, ragu harus melanjutkan ucapanku atau tidak. “Berdoa jo for segalanya yang terbaik apalagi for pemilihan ketua BEM nanti.

Rasanya, mungkin ini hanya perasaanku saja. Ku rasa mamah tersenyum walaupun tidak bisa kulihat, lantas mengatakan, “Bekeng mamah bangga neh, Dek.

Setelah basa-basi selama beberapa menit, akhirnya sambungan telepon ku matikan. Sebaris kalimat masih menggantung di udara. “Bekeng mamah bangga neh, Dek.

Aku tertegun. Jujur, memang itu yang ingin ku lakukan dari dulu. Kalian pernah mendengar pepatah ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’? Aku sering berpikir bahwa pada saat melahirkanku, tanah tempat aku “jatuh” tidak rata sehingga “buah” yang seharusnya jatuh tidak jauh dari pohonnya malah menggelinding turun. Kakakku adalah seorang anggota aktif MUN dari salah satu universitas paling ternama di Indonesia dan sudah beberapa kali menjadi juri dalam kompetisi debat di luar negeri. Adikku yang tidak kalah hebatnya sedang menjalani program pertukaran pelajar di Italia selama satu tahun. Dan aku? Hanya anak biasa-biasa saja yang tidak pernah menghadiahi orang tua dengan medali, sertifikat, atau printilan lainnya yang selalu dibawa pulang oleh saudara-saudaraku. Namun, menjadi ketua BEM di universitas ini akan mengubah segalanya. Setidaknya aku memiliki satu prestasi yang layak disandingkan dengan deretan prestasi kakak dan adik. Maka dari itu, jabatan tersebut harus menjadi milikku.

Kembali ku baca prolip (proposal liputan-red) kandidat nomor satu dan dua, tetapi pikirku malah melayang ke mana-mana. Sebagian ke kegiatan perkuliahan besok yang memaksaku bangun jam 6, sebagian ke mata yang sudah memaksa untuk menutup selama beberapa jam ke depan, sisanya mengarah pada cara untuk menjatuhkan kedua sainganku.

Bodoh. Pemikiran yang terakhir terlalu bodoh. Sepertinya badanku memang sudah terlalu lelah sehingga akalku juga menjadi kacau. Aku meyakinkan diriku bahwa aku memang belum dan tidak akan menjadi orang seperti itu. Dan aku memaksa otakku untuk berpikir lebih keras lagi, menggali lebih dalam, berputar lebih jauh.

Tidak ada cara lain. Aku harus melakukannya. Aku rapikan semua barang di atas meja, ku masukkan ke dalam tas, kemudian bergegas meninggalkan kafe tersebut setelah membayar. Aku susun rencana dalam perjalanan pulang. Orang yang terlibat harus sesedikit mungkin. Waktu yang tersedia masih banyak, lebih dari cukup untuk melakukan hal ini.

Semua hal sudah diperhitungkan dengan baik. Tindakan yang harus dilakukan sudah tersusun rapih di kepala. Orang-orang yang akan aku libatkan juga sudah sangat minim. Tapi, apakah mereka mau melakukannya, ya? Ah, pasti mau. Tidak ada keraguan akan hal tersebut. Jadi, mengapa sekarang malah aku yang ragu? Aku benar-benar ingin melakukan ini, kan? Iya, aku ingin melakukannya, bukan?

***

Hasil pemilihan ketua BEM sudah keluar. Aku berhasil. Rencanaku berjalan dengan sangat mulus. Belum ada yang curiga sampai sekarang. Mereka yang terlibat sudah ku berikan uang makan tiga kali lebih besar daripada uang makanku sendiri sampai-sampai tabunganku terkuras habis. Mereka pasti memilih bungkam.

Kamu mau tahu apa yang aku lakukan? Sederhana. Mendekati ketua dari berbagai himpunan yang memiliki jumlah massa terbesar, meyakinkan mereka untuk mempromosikan diriku kepada massa himpunan, memberikan mereka “uang makan”, dan jackpot! Sisanya, aku hanya perlu menjaga citra baik yang disematkan secara otomatis pada diriku, setidaknya sampai setengah periode. Sekarang aku adalah ketua BEM kampus ini. Jujur, awalnya aku juga sanksi gagasan ini akan berhasil, tapi ternyata semuanya berjalan sesuai rencana, kan? Ditambah lagi, tidak ada pihak yang aku jatuhkan, bukan?

Semua orang pernah merasa tersesat, baik saat menuju ke suatu tempat maupun saat berkelana dalam pikiran sendiri. Dan sepertinya seluruh massa kampus sekarang tengah tersesat. Apakah mereka tersesat karena diriku atau karena orang-orang bayaranku? Biar kamu yang menilai sendiri. Sekarang aku hanya ingin pulang ke kampung halamanku dan melihat wajah bangga kedua orang tuaku. Ya, semoga mereka akhirnya bangga.

Penulis: Tito Satria (FMIPA’18)

Komentar