Berita Kampus Kilas

Pementasan Ratna Manggali: Perihnya Konflik Batin Sang Putri Penyihir

Cerita rakyat adalah salah satu contoh budaya Indonesia yang tidak dapat lepas dari kehidupan masyarakat hingga saat ini. Banyak cerita rakyat yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat di Indonesia, beberapa di antaranya adalah Malin Kundang, Sangkuriang, Lutung Kasarung, dan Calon Arang.

Terinspirasi dari legenda Calon Arang-lah STEMA ITB mementaskan sebuah drama musikal berjudul Ratna Manggali, Perih Sang Putri Penyihir. Namun, kisah penyihir kejam yang mengamuk karena putrinya tiada dipersunting hingga akhirnya berhasil dikalahkan pendeta berhati murni, akan diceritakan melalui sudut pandang baru yang tentunya membuat penonton penasaran. Pertunjukkan yang dipentaskan di Teater Tertutup Dago Tea House pada Sabtu, 2 Februari 2019 silam ini diproduksi oleh Pandu Kristian (pimpinan produksi), Heriastuti Puteri (sutradara), Farisa Nabila (penulis naskah), dan anggota-anggota STEMA ITB lainnya.

Drama ini diawali dengan kisah Calon Arang (Kamila Mardhiyyah) yang diusir oleh warga desa karena menjanda. Ia dianggap akan membawa sial oleh warga lainnya di desa. Calon Arang–yang kabur ke hutan, tempat orang-orang yang diusir tinggal, dengan membawa bayinya–mendapat belas kasihan dari Dewi Durga (Eri Krismiyaingsih). Calon Arang meminta keselamatan untuk anaknya, yang berakhir pada dirinya diberikan kekuatan oleh Dewi Durga.

Ketika Ratna Manggali (Kara Firza Mikaela), anak dari Calon Arang, sudah dewasa, ia akan diwarisi oleh ibunya kekuatan dari Dewi Durga, namun dengan syarat ia harus menikah terlebih dahulu. Masalahnya, tidak ada orang yang mau mendekati dirinya karena ia anak dari Calon Arang. Semua penduduk di hutan maupun desa tidak ada yang berani berinteraksi dengan Ratna Manggali. Di tengah konflik batin yang terus menderanya, Ratna Manggali tak sendirian. Ia memiliki Janitra (Hasna Taqiyya), sosok yang selalu berada di sisinya meskipun pemikiran mereka selalu bertentangan.

Suatu hari, Manggali bertemu dengan Bahula (Rahmad Aji Rahadian), seorang murid dari Mpu Barada (William Justin)–pandita istana–yang berhasil mencuri hatinya. Dengan dusta bahwa dirinya digosipkan warga desa yang tidak-tidak, walaupun telah dicegah oleh Janitra, Manggali menghasut ibunya untuk menyerang warga desa. Siasatnya ini berhasil membuat dirinya menikah dengan Bahula. Sayangnya, karena dibutakan cintanya kepada Bahula, Manggali berujung memberitahu sumber kekuatan ibunya pada Bahula dan membuat Calon Arang berhasil dikalahkan oleh Mpu Barada.

54408

Dokumentasi STEMA ITB

Di akhir cerita, jelaslah konflik batin yang dialami Ratna Manggali. Hadir sebagai seorang Janitra, ternyata sosok tersebut tak lain adalah Manggali sendiri yang kepribadiannya amat sangat bertolak belakang dengan dirinya yang asli. Dari awal memang Manggali tak punya seorang teman pun dan ia kerap berbicara kepada dirinya sendiri dengan kepribadiannya yang berbeda tersebut.

Dari pementasan ini, memang terbukti bahwa STEMA ITB patut diacungi tidak hanya dua jempol atas kemampuan mereka membuat penonton berlarut dalam kisah epik yang mereka bawakan. Mulai dari kostum yang dikenakan para pemain, musik-musik orisinal gubahan mereka sendiri, pencahayaan yang sesuai, dan berbagai properti pendukung cerita yang ditampilkan benar-benar mengundang decak kagum dan membuat penonton tak berkedip selama pertunjukkan berlangsung.

Pesan yang dapat dimaknai ialah bahwa tidak semua perubahan dapat menuju hal yang lebih baik, namun ada kalanya malah membawa sesuatu yang lebih buruk dari sebelumnya. Lalu, apa yang kita lihat sebagai hitam tidak selalu benar-benar hitam, begitu pula sebaliknya yang putih tidak selalu bersih tanpa cacat dari noda. []

Penulis dan Reporter: Claresta Evadne Idelia (FTI’18) dan Hanif Rahman (MG’17)
Sumber foto: Dokumentasi STEMA ITB

Komentar