Featured Kampus

Royyan Dzakiy: Mengharmonikan KM ITB dalam Karya untuk Masyarakat

Foto: Akbar Sighab (FTTM’18)

Pemira K3M ITB kini tinggal menyisakan satu calon. Dialah Royyan Abdullah Dzakiy mahasiswa Teknik Informatika 2015 yang sangat kukuh dalam memperjuangkan mimpi-mimpinya bagi KM ITB. Namun, di balik semangatnya yang membara, pria kelahiran Bogor, 18 November 1996 ini ternyata sempat mendapat tentangan dari sang Ibunda terkait pencalonan dirinya menjadi K3M. Ibunda ingin ia segera melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 agar kariernya lebih jelas. Apa sebenarnya yang membuatnya tetap bersikeras meski harus berupaya lebih untuk meminta restu Ibunda?

Royyan dan KM ITB
Motivasi Royyan mencalonkan diri sebagai kandidat K3M adalah sebagai bentuk balas budi untuk KM ITB atas pembelajaran yang telah didapatkannya selama ini. Sejak TPB, Royyan telah terlibat di berbagai kegiatan pengabdian masyarakat. Ia pernah menjadi salah satu staff magang di Kemenkoan Penerapan Karya dan Pengembangan Komunitas. Dari pengalaman magang itulah Royyan mulai merasakan asyiknya menjadi mahasiswa dan merasa bertemu orang lain itu menyenangkan. “Ketika TPB, aku menyadari bahwa bertemu orang lain itu menyenangkan. Bertemu anak-anak itu menyenangkan. Ternyata kita bisa menginspirasi orang lain. Itu sih titik awalnya pribadi termotivasi,” ujar Royyan.

Sepak terjangnya dalam dunia KM ITB tak terhenti sampai di situ. Pada tahun 2017 Royyan mengemban amanah sebagai Wakil Menteri dari Kementerian Pengembangan Karya dan Inovasi dalam Kabinet Suarasa. Ia juga sukses menyelenggarakan Forum Teknologi Untuk Indonesia (TUID) pada tahun yang sama. Lalu, pada tahun 2018, ia dipercaya kembali untuk menjabat sebagai Menteri Cipta Karya pada Kabinet Senurani.

KM ITB di mata Royyan memiliki peran penting dalam menjaga kehidupan kampus. Ada ribuan mahasiswa dengan segala kebutuhan dan permasalahan yang membutuhkan KM ITB. Oleh karena itu, menurut Royyan, kebutuhan KM ITB akan selalu naik-turun dan berubah setiap waktu. Kebutuhan yang belum terpenuhi sampai dengan kepemimpinan K3M terakhir selalu sama, yaitu terkait isu-isu advokasi yang cukup riskan. “Seperti bagaimana memperlakukan anak-anak seleksi mandiri ke depannya agar tidak terkesan dibedakan? Lalu, bagaimana membantu mahasiswa program afirmasi yang ternyata menyumbang angka drop out yang tinggi? Dan juga terkait lembaga-lembaga yang belum dipersatukan melalui Student Summit, di mana Student Summit seolah-olah hanya menjadi wadah penandatanganan saja. Kebutuhan terhadap itu semua menjadi PR besar karena kita lembaga terpusat,” papar Royyan.

DSCF2095

Sebagai langkah pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah tersebut, Royyan membawa visi Harmoni KM ITB dengan karya berdaya menuju Indonesia Berdikari. Adapun salah satu misinya ialah mencetak penata kehidupan bangsa melalui kaderisasi yang adaptif dan sinergis. Artinya, kaderisasi tidak dibuat untuk mendoktrin dan membentuk satu manusia. Kaderisasi seharusnya menjadi wadah semangat orang-orang untuk mengembangkan diri menjadi sosok manusia terbaik versi diri mereka sendiri. “Setiap orang memiliki nyala mata masing-masing. Mereka punya passion, altruism, dan kesukaan yang berbeda-beda. Aktivisme tidak terbatasi oleh lembaga,” jelas Royyan.

Bagi laki-laki yang pernah menjalani studi di Belanda ini, KM ITB layaknya sebuah hub dan lembaga-lembaga sebagai spokes-nya. Fungsi hub ini adalah untuk mengkolaborasikan, menyatukan, serta menjalin relasi dengan pihak luar. Ide ini kemudian ia tuangkan dalam misi terakhirnya, yakni untuk mengharmonikan elemen KM ITB. Royyan menginginkan agar kolaborasi antara lembaga, KM ITB, serta pihak luar dihidupkan kembali. Harapannya, setiap elemen bisa saling membantu dan menginspirasi satu sama lain dengan nilai dan kekuatannya masing-masing, dan akhirnya disalurkan ke masyarakat.

Ranah sosial menurut Royyan merupakan sendi terpenting dalam kehidupan. Walaupun sosial politik, sosial masyarakat, dan pengaryaan memiliki wadahnya masing-masing, namun sebenarnya ketiga hal tersebut saling berkaitan. “Intinya, nilai sosial ini adalah target kita bersama,” ujarnya. Jika pengaryaan memiliki ruh dan kebermanfaatan sosial, maka ranah sosial-politik dan sosial-masyarakat akan tersentuh dengan sendirinya. Oleh karena itu, dalam salah satu program kerja unggulan, Royyan mengangkat sebuah konsep bernama Diseminasi Karya.

Diseminasi Karya merupakan wujud penyebaran inovasi massa KM ITB agar bisa memberi dampak dan manfaat kepada masyarakat. Selain itu, Royyan juga ingin mengembangkan lembaga inkubasi alias inkubator. Melalui inkubator tersebut karya-karya akan ditampung, dikembangkan, dan dilanjutkan. Melalui hal tersebut, ia yakin bukan hanya dapat memberikan dampak sebesar-besarnya untuk memenuhi kebutuhan KM ITB, namun juga untuk masyarakat luas.

Royyan dan Pribadinya
Royyan mengaku bahwa ia adalah pribadi yang suka mendengarkan. Berdasarkan pengalamannya dalam memimpin, hal tersebut sangat penting. Pemimpin tidak akan tahu bagaimana keadaan lingkungan sekitarnya jika tidak mendengar. Begitu pula jika seorang pemimpin mempunyai mimpi, ia tidak akan tahu apakah lingkungannya dapat turut mewujudkan mimpi tersebut jika ia menutup kedua telinganya.

DSCF2109

Di samping itu, Royyan tak menutup fakta bahwa ia dulunya adalah seseorang yang anti-sosial. Padahal, sebagai K3M ia sadar bahwa ia tidak bisa bekerja sendirian dan perlu membina hubungan baik dengan banyak orang. Menurutnya, hal tersebut merupakan tantangan yang harus ia lawan. Selain ansos, Royyan juga mengaku bahwa ia adalah orang yang terlalu impulsif. Sifat impulsifnya ini terkadang memunculkan ide yang bertabrakan dengan apa yang telah direncanakan. Tetapi, menurutnya sifat ini pula yang memungkinkannya untuk memunculkan ide-ide out of the box.

Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya, menurut Royyan, Pemira ini bukanlah sekadar kemenangan belaka, melainkan soal memperjuangkan gagasan dan hal baik bersama-sama. Karena pada akhirnya lah segala kontribusi dan upaya yang kita lakukan akan menjadi sebuah amal kebaikan kelak. “Bukan hal memenangkan satu calon tapi soal bagaimana kita semua berkontribusi dan akhirnya upaya kita akan menjadi amal kebaikan,” pungkasnya.

Penulis: Ulqi Ulya (FMIPA’18), Anastasia Cesaria (FMIPA’18)

Foto: Dokumentasi Boulevard

Komentar