Berita Kampus Kilas

Meresapi Makna dalam Labirin Seni Eksperimental BINAR 2019

Minggu (31/3) silam menjadi hari ketiga sekaligus terakhir acara BINAR 2019 dilaksanakan. BINAR 2019: Experimental Craft Exhibition merupakan acara pameran karya seni eksperimental yang diselenggarakan oleh mahasiswa Kriya ITB. Bertempat di Selasar Sunaryo Art Space, tahun ini acara tersebut diketuai oleh  Titis Embun Ayu (KR’15). Pada acara ini dipamerkan karya-karya menakjubkan buah tangan mahasiswa kelima jurusan di FSRD ITB, yaitu Seni Rupa, Desain Interior, Desain Produk, Desain Komunikasi Visual, dan Kriya sendiri. Setiap karya yang dipamerkan membuat pengunjung bertanya-tanya apa makna filosofis di balik karya tersebut.

141882

Melangkahkan kaki memasuki ruang pameran, pengunjung langsung disuguhkan oleh peta Indonesia. Namun, peta tersebut bukanlah peta biasa, melainkan dibuat menjadi wadah bagi berbagai macam sambal di 34 provinsi yang ada di Indonesia. Pengunjung dapat mencicipi satu persatu sambal tersebut dengan kerupuk yang disediakan oleh panitia. Sambal ini merupakan buah karya panitia acara sendiri yang berkolaborasi dengan Sobat Budaya.

Lebih jauh masuk ke dalam, terdapat berbagai karya menakjubkan yang membuat mata pengunjung mencari-cari rahasia di balik karya tersebut. Salah satunya adalah “Nervosa” karya Zahrah Nur Adilah. Karya ini berupa manekin manusia yang digambarkan amat sangat kurus dengan kulit berupa potongan-potongan majalah kecantikan. Zahrah menuturkan bahwa karya ini diangkat dari sebuah mental illness yaitu Anorexia Nervosa. Anorexia Nervosa sendiri merupakan sebuah ketakutan terhadap peningkatan berat badan yang salah satunya dapat diakibatkan oleh pencitraan diri yang salah terhadap tubuh yang dianggap ideal oleh majalah kecantikan tersebut.

Selain “Nervosa”, ada pula karya yang berjudul “Kuliwa” oleh Muh. Sachrul Saad. Karya ini berupa guling yang disandarkan secara vertikal pada meja, dan di bawah meja tersebut terdapat cangkir kopi yang telah kosong. Karya “Kuliwa” merupakan pengejewantahan romantisme keluarga pelaut suku Mandar di Sulawesi Barat. Makna karya ini adalah agar pelayaran oleh nelayan dapat berjalan lancar. Sang istri akan meletakkan cangkir kopi suami yang akan melaut dan meletakkan bantal serta guling secara vertikal dengan harapan layar perahu sang suami akan tetap berdiri kokoh. Baik guling serta meja yang dipamerkan di sini telah ditulisi oleh petuah para leluhur suku Mandar.

Titis Embun Ayu selaku Ketua Pelaksana menuturkan bahwa ia ingin membuat sebuah gerakan yang merupakan kolaborasi dari seluruh jurusan yang ada di FSRD ITB, dan tidak terkotak-kotakkan oleh masing-masing jurusan saja. Oleh karena itu, ia menggandeng seluruh jurusan di FSRD ITB untuk berpartisipasi dalam pameran ini. “Harapannya adalah acara ini menjadi pintu yang terbuka lebar bagi semua orang untuk melakukan kolaborasi, terutama dalam hal seni eksperimental,” ujarnya.

Selain itu, Titis juga berpesan kepada seluruh pengunjung bahwa ketika melihat suatu karya gunakanlah seluruh indra yang ada di dalam diri, karena setiap orang memiliki perasaannya masing-masing ketika melihat suatu karya. “Ketika kamu mempunyai energi yang menyenangkan, janganlah malu untuk mengekspresikannya,” tutupnya.

Karya-karya lain yang terdapat dalam BINAR 2019:

“6 Rasa (Six Senses)” oleh Sabrina Raissa F. S.

141877

“A Merit Remnants” oleh Muhammad Balya Alqarany

141890

“Hiraeth” oleh Aisyah Alya Lazari

“Cryptoentomology Antiquarian File #01” oleh Hafiz Muhammad

Reporter dan Penulis: Hanif Rahman (MG’17) dan Adzky Mathla (AS’17)
Dokumentasi: Boulevard ITB

Komentar