Sastra

Sajak Risak

Oleh Suwibatul Amalina SBM’21
(Ilustrasi oleh Amaliyah STF’17)

Adikku, Putra.
Malam ini kau bertandang
Masih dengan balutan almamater basah dan celana komprang warisan bapak
Bibir pasimu nampak beku dan bergetar
Namun kau tak peduli
Kau pula tak beri izin aku untuk peduli

Menidurkan diri di atas dipan, kau lelah
Kau membisu, aku pun bungkam
Tapi waktu tetap berjalan
Lima buah cerutu sudah habis kau sesap

Lagi, malam ini kau berceloteh,
tentang lika – liku hidup,
tentang kesengsaraan tak berujung
Segala sebab mengapa kini kau tersedu pilu
Di balik itu, aku sudah tahu, bahwa kau tengah menuntut

Aroma arak menguar dari tiap kata yang kau ucap
Tembakau di saku kemejamu tak lagi bersisa
Kau hanya haus, dik.
Haus akan tamparan di muka akan realita bahwa kau adalah anak bapak,
harapan bapak,
alasan mengapa bapak masih menjadi budak tuan takur di usia senja.

Kami belai kau dengan cinta dan doa
Kau tampar kami dengan dusta

Adikku, Putra.
Tetaplah bertandang besok malam
Tetaplah bersajak dalam nestapa
Pintu gubuk ini selalu terbuka
Namun kepercayaan kami tidak lagi akan.

Dari aku, mbakmu.
Serta bapakmu, yang kini tengah meringkuk di atas kasur,
tersedu.

Komentar