Berita Kampus Kilas

Malangnya Nasib Putri Tujuh di Malam Kebudayaan Melayu 2019

Ketujuhnya berkain serong
Ketujuhnya bersubang gading
Ketujuhnya bersanggul sendeng
Ketujuhnya memakai pending

Begitulah kutipan perayaan Malam Kebudayaan Melayu sebagai rangkaian acara Pesta Pora Melayu 2019 yang tentunya membuat penasaran.

Minggu, 14 April 2019 silam, bertempat di Teater Tertutup Dago Tea House, telah dilaksanakan Malam Kebudayaan Melayu yang diselenggarakan oleh Unit Kebudayaan Melayu Riau (UKMR) ITB. Malam Kebudayaan Melayu merupakan acara puncak dari rangkaian Pesta Pora Melayu 2019. Pesta Pora Melayu 2019 ini sendiri merupakan acara yang diadakan untuk memperingati hari ulang tahun UKMR yang ketiga belas. Sebelum malam puncak dilaksanakan, Pesta Pora Melayu 2019 telah mengadakan pre-event berupa penjajaan berbagai makanan khas Melayu-Riau yang dilaksanakan di Lapangan CC Timur ITB.

Menutup rangkaian acara Pesta Pora Melayu 2019, diselenggarakanlah Malam Kebudayaan Melayu. Acara dibuka dengan penampilan musik dan tarian kreasi kebudayaan Melayu. Alunan musik yang membahana, ditambah lenggak-lenggok penari yang dengan lincah membawakan tarian, membuat mata penonton tak berkedip. Tarian pembuka tersebut sukses membuat penonton berdecak kagum hingga penasaran dengan rangkaian acara selanjutnya.

pes 1

Setelah sambutan-sambutan, sampailah pada puncak acara yaitu penampilan drama “Putri Tujuh, Asal Mula Nama Kota Dumai”. Putri Tujuh bercerita tentang sebuah kerajaan, di mana sang Ratu, yang bernama Cik Sima, memiliki tujuh orang putri. Putri pertama, yang bernama Mayang Kemuning, merupakan putri yang cukup angkuh. Berbeda dengan sang sulung, putri ketujuh, yang bernama Mayang Sari, adalah gadis rendah hati dan memiliki wajah paling cantik di antara keenam putri lainnya.

Kecantikan Mayang Sari ternyata membuat Pangeran Empang Kuala jatuh hati. Pangeran Empang Kuala akhirnya memberanikan diri untuk bertemu dengan Mayang Sari dan Mayang Sari pun dibuat jatuh hati juga karena kepandaian sang Pangeran dalam merangkai kata. Namun, pada akhirnya Mayang Sari mengetahui bahwa Pangeran mengintipnya saat bermain di sungai dan akhirnya ia pergi dengan marah.

Tak berhenti sampai di situ, Pangeran yang telah mabuk kepayang oleh kecantikan Mayang Sari pun bermaksud untuk mempersuntingnya sebagai istri, dan akhirnya ia mengirim untusan untuk melamar Mayang Sari. Cik Sima yang menjunjung tinggi adat menolak permintaan tersebut, karena jika ingin menikahi putri ketujuh maka keenam putri sebelumnya harus menikah terlebih dahulu. Pangeran pun marah mendengar hal ini dan menyatakan perang pada kerajaan Cik Sima.

Sesaat sebelum perang pecah, Cik Sima telah menyembunyikan ketujuh putrinya di dalam sebuah gua dan menyediakan makanan untuk tiga bulan dengan harapan ketujuh putrinya dapat aman dari perang.

pes 4

Karena berada di ambang kekalahan, Cik Sima meminta bantuan jin, dan dengan bantuan jin tersebut pasukan Pangeran Empang Kuala dapat ditaklukkan. Namun, ketika kembali ke gua untuk menjemput putri-putrinya, alngkah terkejutnya Cik Sima karena keenam putrinya telah meninggal dunia karena kelaparan, dan satu orang putri lain yaitu Mayang Sari tidak ditemukan keberadaannya.

Drama yang epik ini disusun dengan begitu baik hingga membuat penonton terhibur ketika menyaksikannya. Selingan di tengah adegan berupa nyanyian dan tarian menambah daya tarik drama yang dipertunjukkan. Gurauan-gurauan khas Melayu dalam adegan juga membuat penonton tertawa lepas dan bahagia. Kemudian ketika adegan terakhir selesai, tepuk tangan yang amat meriah memenuhi ruang teater.

pes 2

Acara ditutup dengan musik dan tarian kreasi kebudayaan Melayu lagi yang tak hentinya membuat penonton takjub. Setelah acara selesai, para pemain, baik penari, pemusik, aktor dan aktris drama, dan semua panitia dipanggil maju naik ke atas panggung. Setelah pemotretan, para penonton segera bangkit dari kursi dan maju ke panggung untuk memberi selamat kepada para pemain yang telah membawakan Malam Kebudayaan Melayu ini dengan sukses.[]

Reporter dan Penulis: Hanif Rahman (MG’17)
Dokumentasi: Boulevard ITB

Komentar