Artikel Opini

Pandemi Tanpa Anomi

 

Larangan mudik sudah berlaku. Bagi yang berhasil pulang sebelum penerbangan dilarang atau jalanan dipalang, bersyukurlah. Tidak semua orang seberuntung Anda sekalian.

Bicara beruntung, sebenarnya sudah seberuntung apa, sih, kita sebagai mahasiswa Institut Terbaik Bangsa Institut Teknologi Bandung? Bahkan, jika menyampingkan nama institusi, kita sudah memperoleh privilege yang tidak dimiliki 65% anak Indonesia, dilansir dari Sulteng Raya (8/5/2019) yaitu dapat berkuliah.

Saat pandemi mengungkung, lagi-lagi, katanya, kita memperoleh “keistimewaan” sebagai mahasiswa dari kampus yang berkapabilitas dalam menyediakan dan mendukung perkuliahan jarak jauh. Ini bukan semata tentang situs e-learning ITB yang cukup memadai, melainkan pula tentang penyediaan Beasiswa Corona sampai pengertian para dosen dan asisten kalau-kalau ada kendala selama proses perkuliahan.

Saya paham terdapat variasi kondisi mahasiswa dalam memperjuangkan perkuliahan daring. Namun, jika menilik situasi milik sendiri, keleluasaan bisa jadi menggoyahkan iman dan sangat-teramat-sungguh menggoda untuk mengendurkan semangat belajar—kalau ada.

Sebagai contoh, kegiatan belajar mengajar yang dahulu dilakukan di kelas sekarang bisa saja berpindah di atas kasur. Tidak repot mandi, apalagi bangun pagi; syukur-syukur tidak kesiangan dan sempat mengikuti perkuliahan di Zoom. Kalau tidak diperiksa kehadirannya saat perkuliahan online, beeeh, setan mudah saja berbisik ke telinga, “Sudah, isi saja daftar kehadiran di SIX, kemudian lanjut tidur.”

Keleluasaan ruang dan waktu ini juga banyak mengusik ketika kuis atau ujian berlangsung. Bukankah tidak ada yang bisa membatasi akses ke media? Jalan untuk bekerja sama atau berbagi jawaban terbentang luas. Untungnya jenis ujian saat ini— umumnya—mengizinkan open book. Kalau tidak? Wah, pintu berbuat dosa semakin lebar; tidak ada pintunya lagi jangan-jangan.

Sayang sekali Institut Teknologi Bandung tidak “sekaya itu” sehingga tidak menyewa mata-mata untuk menjamin integritas mahasiswa. Ah, tapi Institut Terbaik Bangsa, masa mahasiswanya tidak bisa mempertahankan integritasnya sendiri?

Hal lain yang menarik dari perkuliahan di tengah pandemi adalah momen ketika dosen mengajukan soal, tetapi tidak ada yang merespons. Sebenarnya, tidak perlu berupa “soal”, apalagi soal kalkulus tingkat lanjut yang mungkin tidak dijawab karena tidak ada yang paham. Saat dosen melempar pertanyaan sederhana “Bagaimana? Apakah dapat dimengerti?” pun tidak jarang ruang kuliah virtual seperti tidak berpenghuni. Betapa kasihan dosen tersebut, tapi bukankah kita yang lebih patut dikasihani? Sudah diperhatikan, masih mengabai bak gebetan yang (sok) jual mahal.

Namun, yang paling diuji dari kehadiran pandemi ini bukanlah kualifikasi Institut Teknologi Bandung beserta tetek bengeknya dalam menyediakan sarana dan prasarana perkuliahan. Lebih esensial dari UTS dan UAS—yang sudah banyak memakan korban jiwa—pandemi Covid-19 menguji kecakapan mahasiswa dalam

memanajemeni diri sendiri.

Tidak ada lagi kewajiban berlari-lari menaiki tangga GKU-B demi menghadiri kelas tepat waktu, apakah membuat kita tetap bangun pagi dan melaksanakan aktivitas sebelum ayam mematuk rezeki? Tidak ada lagi keketatan dalam pelaksanaan ujian demi mewujudkan kredibilitas, apakah membuat kita tetap teguh memegang prinsip dan tidak oleng meniti ‘jalan yang lurus’?

Pandemi menuntut mahasiswa menjadi lebih mandiri, mengerjakan apa-apa nyaris sendiri. Akan tetapi, bukankah kesendirian sangat merayu manusia untuk meninggalkan norma dan berbuat semaunya? Terus menerus rebahan meskipun deadline semakin dekat—iya, ini saya yang belum bertobat—misalnya, menjadi bukti bahwa pandemi mudah saja menjadi alasan untuk berlaku anomi alias tanpa norma.

Perlu diingat bahwa “hukum tidak melekat pada benda, tetapi perilaku atas benda tersebut”. Pandemi sebagai benda tidak dapat divonis buruk atau baik. Ada pun dampak-dampak yang lahir dari pandemi—anomi pada diri sendiri misalnya—sangat bergantung pada individu yang menyikapi benda tersebut.

Mahasiswa-mahasiswa ambis—ambisius belajar untuk UTS, ambisius beribadah di bulan Ramadan, ambisius untuk tidak rebahan dan melakukan hal-hal positif—seperti rekan-rekan yang membaca tulisan ini niscaya mewujudkan pandemi tanpa anomi. Semoga saja saya, beserta sebagian yang mungkin tersentil bahkan tercubit oleh curahan hati ini, ke depannya turut mengimplementasikan hal serupa: pandemi tanpa anomi.

Yuk, bisa yuk.

—Zahra Annisa Fitri, 19919106

Komentar