Artikel Kampus

[PART 1] Mengenal Kebutuhan Emosi dan Penanganan Kecemasan Mahasiswa Selama Pandemi

Rabu (5/8), telah dilaksanakan seri pertama webinar Ganesha Mental Care, program Kementerian Edukasi dan Pendampingan Kesehatan Mental (EPKM) KM ITB untuk meningkatkan awareness terhadap isu kesehatan mental mahasiswa. Webinar bertajuk “Mengenali Kebutuhan Emosi dan Penanganan Kecemasan Mahasiswa Selama Pandemi” ini dimulai pada pukul 13.25 WIB dengan kata sambutan oleh Arjuna Sitorus selaku Dirjen Eksternal Kementerian EPKM. Acara kemudian diserahkan pada Nia Bestari, Advisor Kementerian EPKM, selaku moderator. Sekitar 140 peserta mengikuti acara yang diadakan di Google Meet tersebut.

Sesi pertama dibawakan oleh Airin Triwahyuni, S.Psi., M.Psi. Beliau adalah psikolog yang juga mengajar di Unpad. Pada sesi ini, beliau memaparkan mengenai definisi kecemasan, jenis-jenisnya, serta cara penanganannya untuk mahasiswa di tengah pandemi. Menurut Bu Airin, pandemi sebenarnya bukan hal yang baru pertama kali terjadi di dunia. Seratus tahun yang lalu terjadi flu Spanyol, misalnya. Namun, COVID sendiri terkesan sangat menyeramkan karena kita sendiri yang merasakannya, dan karena dampaknya tidak hanya secara fisik namun juga secara psikologis.

Kecemasan Selama Pandemi

Secara psikologis, hal yang membuat seseorang stress karena pandemi bisa bermacam-macam. Pertama, kecemasan bisa muncul akibat ancaman kesehatan yang mungkin terjadi pada diri sendiri maupun orang-orang tersayang. Kedua, gangguan pada rutinitas menimbulkan perubahan signifikan dan membuat hidup terasa tidak nyaman. Lalu, tekanan psikologis juga bisa berasal dari eksposur terhadap trauma secara tidak langsung, seperti berita atau konten dramatis mengenai COVID-19.

Bu Airin menjelaskan bahwa kecemasan sendiri dapat didefinisikan sebagai perasaan tidak nyaman. Berbeda dengan rasa takut yang penyebabnya cenderung mudah diketahui dan ada korban yang jelas, kadang-kadang objek kecemasan sifatnya tidak jelas. Berdasarkan istilah sehari-hari, cemas bisa disebut tegang, mudah kesal, bad mood, atau gelisah.

Ketika cemas, biasanya tubuh akan memberikan warning sign berupa gejala fisik, misalnya mudah berkeringat, jantung berdebar-debar, sampai napas pendek. Tidak jarang juga seseorang mengalami perubahan pola hidup (contohnya jam tidur maupun jumlah makan) sebagai akibat kecemasan. Kecemasan pun dapat berpengaruh pada kondisi mental, seperti munculnya rasa khawatir dan hilang kontrol ataupun konsentrasi mudah terganggu.

Gangguan mental akibat kecemasan terbagi menjadi dua, yaitu gangguan ringan dan berat. Gangguan masih dikatakan ringan apabila terasa tidak nyaman tetapi tidak sampai mengganggu secara serius. Ketika gangguan-gangguan tersebut mampu menjamah aspek fungsi kehidupan sehari-hari seperti terasa sulit belajar, susah mengerjakan tugas, nilai terjun bebas, atau selalu merasa kesepian, gangguan ini sudah termasuk berat.

Dikarenakan banyaknya dampak buruk yang dibawa kecemasan, Bu Airin menegaskan perlunya penanganan kecemasan yang muncul selama pandemi. Secara umum, kecemasan yang disebabkan langsung oleh pandemi dapat menghilang sendirinya setelah pandemi berakhir. Namun, beberapa jenis kecemasan yang disebabkan secara tidak langsung oleh pandemi perlu ditangani dengan cara yang berbeda: gangguan ringan dapat ditangani dengan psychoeducation, sedangkan gangguan berat perlu ditangani dengan professional treatment.

Penanganan Ringan: Psychoeducation

Psychoeducation bisa dilakukan secara emotional serta physical self-care. Cara pertama mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari ialah dengan mencari informasi bagaimana untuk tetap aman dalam kondisi pandemi. Namun, untuk mencegah kecemasan, Bu Airin menyarankan agar kita mencari informasi dari sumber yang kredibel seperti WHO atau CDC. Jangan terlalu banyak terekspos pada TV atau media lainnya yang cenderung melebih-lebihkan, bahkan menakut-nakuti. “Perlu diingat bahwa media pada umumnya menyajikan konten secara sensasional demi menarik perhatian,” tambahnya.

Selanjutnya, coba lihat keadaan lewat perspektif yang netral atau tidak hanya secara negatif saja. Kita juga harus ingat bahwa kebanyakan orang mampu bangkit lagi dari keterpurukan dan menyesuaikan diri dengan perubahan. Pada awalnya perubahan memang tidak nyaman, tetapi dengan melakukan pembiasaan secara konstan, perlahan perilaku dapat disesuaikan. “Jangan terlalu memikirkan worst case scenarios. Remember, things will get better,” kata Bu Airin.

Lalu, jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan. Imunitas tubuh perlu dijaga, misalnya dengan nutrisi yang cukup serta olahraga. Pertahankan rutinitas sebisa mungkin agar tidak terjadi banyak perubahan yang membuat hati kurang nyaman. Apabila kita dapat mempertahankan beberapa kebiasaan yang dilakukan sebelum pandemi, kita akan semakin tenang karena secara tak sadar merasa keadaan sekarang sebenarnya tidak jauh berbeda.

Upaya meningkatkan resiliensi juga menjadi salah satu cara untuk psychoeducation. Kita perlu mengingat dan menggunakan kembali kemampuan yang pernah digunakan dulu untuk bertahan menghadapi masalah yang ada sekarang. Jika kita dulu suka membuat planner untuk menghadapi sesuatu, cobalah buat lagi. Ada juga yang menghadapi masalah dengan bercerita kepada keluarga, mengerjakan hobi, dan lain-lain.

Selanjutnya, Bu Airin mengajak kita untuk sama-sama membuat perencanaan atau planner di tengah pandemi. Ketika memiliki sesuatu yang dapat dikendalikan diri sendiri, kecemasan dapat dikurangi. Daripada waktu dipakai untuk mencemaskan suatu hal, alangkah lebih baik digunakan untuk merencanakan hal lainnya.

Terakhir, tetaplah menjaga hubungan. Menjaga hubungan dengan sesama dapat menjadi suatu sarana untuk berbagi cerita dan menangani stres. Namun, jangan lupa untuk membicarakan juga hal-hal yang meresahkan agar tidak dipendam sendirian saja. Ceritakan juga hal-hal yang membuat senang untuk berbagi kebahagiaan dengan yang lain.

Penanganan Berat: Pertolongan Profesional

Ketika rasa cemas sudah terlalu tinggi hingga mengganggu keseharian, diperlukan bantuan dari profesional. Berikut ini adalah beberapa tanda bahwa kecemasan yang dimiliki sudah termasuk berat. Pertama, anxiety, insomnia, irritability, atau depresi yang cenderung terlalu persisten. Kedua, terlalu menghindari sosialisasi dengan orang lain hingga terkesan mengisolasi diri. Ketiga, kerap membutuhkan reassurance tentang kesehatan diri secara terlalu persisten. Keempat, menjaga kebersihan secara berlebihan. Terakhir, melarikan diri ke alkohol, drugs, ataupun makan secara berlebihan sebagai bentuk menghadapi stres. Ketika terkena gejala-gejala ini, carilah bantuan ke psikolog, family physician, atau konselor. Dalam keadaan saat ini yang kurang memungkinkan, konsultasi juga dapat dilakukan melalui internet saja.

Berbicara soal Keluarga, Produktivitas, dan Panic Attack

Setelah pemaparannya selesai, Bu Airin menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Salah satu pertanyaan menarik muncul seputar kondisi stres karena pandemi yang memaksanya tiba-tiba terlalu dekat dengan keluarga. “Saya sudah sejak SMP tidak tinggal bersama orang tua, tetapi hubungan saya dengan orangtua baik baik saja. Namun, ketika sekarang harus tinggal bersama dalam jangka waktu panjang, sering terjadi perdebatan kecil dan butuh banyak penyesuaian”, ujar sang penanya.

Bu Airin menyebut bahwa keluhan serupa sudah sering disampaikan oleh mahasiswa Unpad ketika konseling online, dan bisa diselesaikan dengan mengambil beberapa perspektif yang lebih luas. Pertama, kita harus mengingat bahwa masa pandemi tentu akan berakhir suatu hari nanti dan bahwa kondisi terlalu dekat dengan keluarga ini hanyalah sementara.

Kedua, kita juga tidak boleh lupa menempatkan diri di dalam perspektif orang tua dan coba pikirkan kenapa terjadi perselisihan. Mungkin saja perselisihan ada karena orang tua memang cukup emosi-an atau sedang memiliki masalah finansial, dam adalah peran kita sebagai anak untuk me toleransi mereka. Sebisanya, komunikasikan dengan orangtua cara-cara yang memungkinkan win-win solution antara kita dengan mereka.

Sebagai contoh, apabila orangtua seringkali memarahi kita saat kita ingin “me time”, coba sebelum itu tanyakan terlebih dahulu apakah ada yang bisa dibantu untuk mereka. Dengan demikian, orangtua tahu bahwa kita tidak malas-Kalasan dan akan senang mengizinkan kita “me time” sebagai Reeves. Intinya, jangan langsung ikut-ikutan marah tapi coba tahan dulu selama sesaat agar dapat berpikir rasional. Mau bagaimanapun, otak memang secara biologis lebih cepat merespon stimulus secara emosional ketimbang rasional.

Salah satu pertanyaan dari penanya lain mempertanyakan soal dampak pandemi cara kerja para pemuda. “Saya pernah mendengar pertanyaan dari psikolog yang saya kenal, bahwa kelompok usia produktif khususnya umur 20-an lebih cenderung bekerja secara dinamis. Namun hal tersebut tidak dapat direalisasikan karena adanya pandemi ini,” jelasnya.

Menurut Bu Airin, pandemi tentu sangat berdampak pada masyarakat secara keseluruhan. Akan tetapi, sangat penting untuk kita melihat dari perspektif positifnya. Di sisi baikny, pandemi memaksa kita untuk semakin up to date dengan teknologi dan belajar produktif di rumah. Kita harus mulai belajar bagaimana pandemi ini bukan hanya sebagai tambahan tapi juga sebagai tantangan yang didalamnya kita coba gunakan untuk mempelajari hal baru.

Sesi tanya-jawab dengan Bu Airin ditutup dengan pertanyaan seputar perbedaan istilah “panic” dengan “panic attack”. Beliau menjelaskan bahwa panik yang masih dalam kadar normal (misalkan sudah dalam perjalanan ke kampus baru ingat bahwa ada barang ketinggalan di kos), sementara panic attack merujuk pada kondisi ketika kecemasan sudah memicu reaksi tidak terkontrol secara fisik (indikasinya bervariasi mulai dari keringat dingin sampai jantung berdebar-debar).

Lanjutan artikel mengenai sesi kedua dapat dibaca di https://boulevarditb.com/2020/08/06/part-2-mengenal-kebutuhan-emosi-dan-penanganan-kecemasan-mahasiswa-selama-pandemi/

 

Penulis: Arini (EB’19), Rizky (TL’19), William (AR’18)

Editor: Patricia (BI’18)

Artistik: Levana (SI’19)

Komentar