Artikel COVID-19 Kampus

Balada Kaderisasi di Tengah Pandemi

Setahun tahap paling bahagia telah dilewati. Saatnya tahun baru dijajaki. Tapi tunggu, kenapa di depan sana ada kaderisasi? Bukankah sudah saatnya aku bisa jalan sendiri?

Berbeda dari tahun pertama menjadi mahasiswa yang disambut dengan ceria oleh OSKM, tahun ini jurusan yang menyambut dengan orientasi yang terkesan berbeda. Nilai-nilai yang ingin dibawa jurusan masing-masing mulai diaplikasikan. Ah, sudah saatnya kaderisasi anggota baru himpunan dimulai. Meski liburan tanpa kesibukan terlihat lebih menggiurkan, atau produktivitas di luar kemahasiswaan terlihat elok di mata, muncul bayangan akan pemenuhan kepentingan yang dapat diperoleh selama kurang lebih tiga tahun ke depan. Bahkan efeknya bisa sampai seumur hidup, karena bisa menunjang karir, katanya. Oke, lupakan liburan selama beberapa bulan, mari kita korbankan demi kepuasan di masa depan. Meski terkadang segala rancangan terkesan tak sesuai dengan prinsip diri, di sini adaptabilitas diuji. Kalau boleh menebak, itu juga nilai dasar yang mau ditanamkan, kan?

Osjur, atau orientasi jurusan merupakan sebuah kegiatan yang rutin dilakukan suatu himpunan sebagai bentuk penerimaan dan pembinaan anggota baru. Masa ini merupakan waktu bagi para mahasiswa yang baru menyelesaikan TPB untuk mengakrabkan diri dengan lingkungan baru di jurusan. Tidak hanya memberikan materi seputar keprofesian, osjur juga mengajak mahasiswa untuk mengenali kehidupan di himpunan. Sebelum memasuki himpunan, ada profil-profil tertentu yang ditargetkan untuk dicapai para “calon”. Materi dan metode osjur pun harus diimplementasikan sebaik mungkin demi pencapaian tersebut, dan salah satunya tentu saja berkaitan dengan tugas.

Walaupun tidak jarang membuat lelah karena segala tugas dan tetek bengek yang dilimpahkan, kegiatan ini mampu merekatkan hubungan dengan teman-teman seangkatan. Sayangnya, segala keseruan osjur tidak dapat dirasakan secara langsung tahun ini. Karena kondisi yang tidak memungkinkan dengan adanya pandemi COVID-19, rangkaian kegiatan ini dilakukan secara online dengan memanfaatkan berbagai platform yang tersedia. Interaksi fisik dihilangkan, baik karena mematuhi regulasi yang ada, buruk karena tentunya merintangi maksimalisasi keluaran dari osjur.

Metode online yang diterapkan memiliki sisi positif maupun negatif. Positifnya, sejumlah mahasiswa tidak perlu bersusah payah datang ke tempat yang ditentukan dengan membawa segala macam spek. Tinggal duduk di depan gawai, klik tautan untuk masuk ke “ruangan”, dan tatap layar selama kegiatan berlangsung. Sesekali buka gawai (lagi), duduk di depan layar, lalu kerjakan tugas yang menumpuk. Kapan lagi bisa merasakan osjur from home?

Namun, sisi negatifnya juga tidak kalah banyak. Tidak semua calon anggota yang dikader memiliki koneksi memadai untuk mengikuti rangkaian acara. Kaderisasi online berlangsung cukup lama di tiap hari pelaksanaannya, bahkan bisa sampai menyentuh tujuh jam berturut-turut. Kuota internet habis dengan cepat, pundi-pundi uang cepat mengalir untuk membeli tambahan. Terlalu lama menatap layar, mata kelelahan. Begitu terus sampai kaderisasi (yang masih belum kelihatan tanda-tandanya) berakhir.

Selain itu, apa benar hal-hal yang ingin dicapai kaderisasi akan tercapai maksimal dengan metode online ini? Siapa yang tahu apabila sang kader tertidur di balik kondisinya yang mematikan kamera? Kalau menggunakan metode pengecekan, bisa jadi si kader lihai dan pandai melihat kesempatan dan tahu situasi dan kondisi yang memungkinkan untuk “away from keyboard”. Tugas wawancara, memang benar mau offline maupun online sering dilakukan hanya sebagai pemenuhan formalitas. Tetapi, berawal pemenuhan formalitas, setidaknya pertemuan secara fisik dapat mengurangi kecanggungan, kemudian memunculkan kecenderungan untuk lebih mengenal. Andaikan selesai tugas wawancara di dunia nyata, apakah benar tidak akan berbasa-basi di luar template? Kalau online, tanyakan saja template, kemudian langsung leave meeting, tidak akan terasa berat. Kalau langsung, wah, masa sih mau langsung kabur begitu saja?

Tentu saja kaderisasi online yang berisiko memberikan hasil yang tak semaksimal biasanya tidak bisa dipandang sebagai kesalahan panitia. Tampak bahwa panitia telah memutar otak untuk memfasilitasi peserta agar bisa meraih nilai-nilai yang diharapkan, meski hal ini mungkin belum terpatri di kesadaran peserta. Segala hal diusahakan, namun ada satu yang terelakkan. Satu hal semata, tapi mengusik berbagai aspek lainnya, yaitu lagi-lagi bahasan sejak awal, bahwa kaderisasi harus dilakukan secara online. Tantangan yang baru ini seolah-olah menguji adaptabilitas panitia juga, mendesak kelahiran inovasi-inovasi baru yang tak pernah terbayangkan saat keadaan offline. Keluhan seperti kurang bonding atau kurang adanya rasa kesadaran akan angkatan karena tatap muka hanya lewat layar tak jarang dibisikkan di setiap sudut diskusi.

Kaderisasi memegang peran besar dalam pembangunan masa depan suatu organisasi, karena ialah yang bertanggung jawab atas pembentukan manusia-manusia yang akan membangun organisasi tersebut. Bisa pula mencuat pertanyaan-pertanyaan baru, bagaimana orang yang menjalani kaderisasi online akan melakukan kaderisasi offline terhadap penerusnya? Apakah dengan situasi online ini, nilai-nilai yang kurang tersampaikan dapat menyebabkan pergeseran metode kaderisasi offline ke depannya? Apakah inovasi-inovasi baru yang tak sengaja lahir dari upaya adaptasi, dapat menggantikan tempat tradisi lama nantinya? Dikerubungi pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita pun hanya bisa mengira-ngira dan meraba-raba. Tapi di tengah segala ketidakpastian itu, kita pun bisa senantiasa memegang teguh pesan wawancara yang selalu disampaikan pengkader sebelum semua orang meninggalkan room: “Nikmati saja prosesnya.”

Penulis:

Rhea Elka Pandumpi

Arini Rahma Adzkia

Editor: Patricia Anita Rosiana

Ilustrator:

Hafsah Restu Nurul Annaf

Komentar