Artikel Kampus Opini

Warna-Warni yang Menyala di Kampus Ganesha

 

Adakah yang rindu pada Kampus Ganesha?

Saat kau berjalan menyusuri kampus ini, kau bukan hanya akan disambut oleh semarak bunga kolecer dan bougenville ungu yang tumbuh lebat di gerbang utama pada sekitar bulan Agustus, seolah mereka ditakdirkan hidup untuk menyambut binar bening wajah mahasiswa baru. Akan tetapi, kau juga akan disilaukan oleh sekumpulan mahasiswa yang dengan cantik atau gagah memakai jaket dengan palette warna berbeda-beda, mulai dari hitam, putih, abu-abu, merah, kuning, hijau, biru.

Untuk warna biru saja, kau akan menemukan banyak jenis warna biru seperti biru langit, biru laut, biru dongker, biru muda, belum untuk warna lainnya. Ada merah yang sangat mentereng di mata, merah hati kecokelatan, oranye dan kuning yang cerah, sampai hijau tosca. Padahal, kita semua punya satu seragam yang sama; sebuah jaket almamater berkancing empat yang konon berwarna deep cobalt blue dengan lambang Ganesha di dadanya. Lalu, kenapa tidak pakai itu saja?

Tidak ada yang menyalahkan sih, kalau kau mau pakai jaket deep cobalt blue itu terus-terusan, asal kau siap menerima tatapan dari berpasang-pasang mata yang seolah batinnya sedang menggumam, “Ini orang kenapa sih?”

Jaket deep cobalt blue yang didapatkan secara resmi oleh mahasiswa saat daftar ulang ini hanya sering ‘berkeliaran’ di hari-hari masa OSKM, selebihnya mungkin kau hanya akan menemui di lantai dasar gedung CC Barat, tepatnya di sekitar sekretariat Kabinet, atau kalau malam hari, biasanya jaket deep cobalt blue ini dipakai para mahasiswa yang sedang mengikuti diklat kepanitiaan terpusat. Sepertinya menemukan seseorang dengan jaket almamater berada di tengah-tengah kampus peluangnya hanya satu per seratus. Berbeda dengan jaket warna-warni itu yang bisa ditemui di setiap sudut kampus, di jalanan sekitar Ganesha, di cafe, co-working space, bahkan mall di seantero Bandung,

Bukan, sebenarnya bukan ingin membandingkan antara jaket almamater dan jaket himpunan poinnya. Narasi ini hanya sebagai ungkapan rasa terkesan akan ‘pencapaian’ jaket himpunan yang entah mengapa eksistensinya sampai mengalahkan jaket nomor satu di Institut tercinta ini. (Sebentar, ini tetap terdengar seperti membanding-bandingkan, ya?)

Salah satu budaya yang semakin membuat jaket himpunan terlihat bak sesuatu yang prestisius adalah adanya budaya ‘foto jahim’. Foto jahim adalah hal pertama yang direncanakan mahasiswa yang memasuki tingkat dua, dilakukan sesegera mungkin setelah masa ospek jurusan berakhir. Hari ini mungkin foto jahim bersama teman-teman dari suatu kepanitiaan, besok lagi foto jahim dengan teman-teman di unit, besoknya lagi foto jahim dengan teman paguyuban, teman-teman kelas TPB, teman satu kos atau asrama, dan sebagainya. Seolah jaket himpunan memang seberharga itu dan momen foto jahim adalah momen yang paling ditunggu

Mungkin terdengar mendramatisir, tetapi memang ada kepuasan tersendiri ketika melihat padu padan dari berbagai rentang warna ini terbingkai rapi dalam suatu pigura.

Dengan segala keprestisiusannya, mendapatkan jaket himpunan tentu tidak semudah mengedipkan mata. Ada waktu dan tenaga yang perlu dikorbankan, setidaknya berbulan-bulan, dan hal terberat selanjutnya adalah komitmen. Mendapatkan jaket himpunan adalah suatu bukti bahwa kau setuju untuk memikul tanggung jawab baru. Kalau jaket almamater adalah jaket yang menemani perjalanan awal saat pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Ganesha ini, jaket himpunan adalah jaket yang akan menemanimu untuk tetap bertahan dalam ke-chaos-an duniawi selanjutnya, baik kehidupan akademik maupun non-akademik. Jaket himpunan, memiliki makna yang jauh lebih dalam ketimbang kelihatannya.

Meskipun, kenyataannya, suka atau tidak suka, kita perlu mengakui bahwa terkadang ada beberapa yang menjadikan jaket himpunan sebagai ajang menunjukkan arogansi belaka. Hal ini juga yang menjadikan beberapa orang menganggap penggunaan jaket himpunan selayaknya mengangkut kita menuju paham himpunan-sentris. Padahal, bukan begitu tujuannya.

Warna-warni jaket himpunan menunjukkan multikultural mahasiswa dengan disiplin ilmu berbeda-beda. Deep cobalt blue yang bermakna menyelami dalamnya ilmu pengetahuan kini perlahan, sedikit demi sedikit beralih menjadi warna yang merepresentasikan diri kita masing-masing. Ada yang seberani merah, seteduh biru, secerah oranye. Seolah, setelah sampai ke dasar paling dalam, kita siap untuk mengambil satu-persatu biota sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita, lalu membawanya ke daratan, mengumpulkannya, dan menjadikannya sesuatu yang berguna.

Namun, pada akhirnya, realita kembali menyadarkan bahwa hari ini, tiap elemen spektrum warna tersebut hanya tergantung di balik pintu masing-masing, atau terlipat dengan rapi dalam lemari. Sudah hampir setahun Kampus Ganesha redup. Mahasiswa-mahasiswa baru tak ada yang merasakan bagaimana mengharukannya disambut oleh lebatnya bunga kolecer dan bougenville ungu yang seharusnya dapat meneriakkan semangat pada mereka, pun mahasiswa yang memasuki tingkat dua, belum ada yang merasakan seberapa hangatnya meringkuk dalam jaket dengan warna yang merepresentasikan dirinya. 

Masing-masing dari kita, hanya bisa menerka, kapan kilau Ganesha kembali menyala?

 

Penulis : Beta Miftahul Falah (AS 18)

Editor : Patricia Anita Rosiana (BI 18)

Ilustrator : William Chang (AR 18)

Komentar