Artikel Kampus

Isu UKT dan Asa Mahasiswa yang Memudar: Sampai Kapan Rektorat Bungkam?

Seperti mimpi buruk yang tidak pernah usai, awal tahun ini kita kembali dihadapkan dengan isu UKT dan segala tetek bengeknya. Meski telah berulang kali menuai protes, pihak rektorat seakan telah menutup mata mereka, menolak untuk melihat ke bawah dari atas takhta agungnya.

Memahami Polemik UKT Periode ini

Beasiswa UKT merupakan ‘branding’ baru yang diperkenalkan oleh ITB untuk menggantikan mekanisme banding UKT. Untuk para mahasiswa yang hendak mengajukan permohonan beasiswa UKT semester 2 2020/2021, ITB membuka pendaftaran pada 20-27 Desember 2020 dan keputusannya direncanakan akan diumumkan pada 14 Januari 2021. Namun entah mengapa, pengumuman tersebut harus diundur satu hari tanpa pemberitahuan apapun. 

Perasaan harap-harap cemas yang dirasakan para pejuang UKT juga sepertinya tidak lantas sirna karena banyak yang merasa tidak puas dengan nominal yang tertera pada laman SIX. Bahkan ada pula mereka yang pengajuan beasiswanya ditolak mentah-mentah tanpa penjelasan sedikit pun dari Direktorat Keuangan ITB. Ketidakpuasan ini kemudian berlanjut dengan tidak munculnya opsi peninjauan kembali bagi mereka yang masih merasa keberatan. Selain itu, para mahasiswa juga hanya diberikan waktu empat hari untuk membayar tagihan tersebut, sungguh waktu yang teramat singkat di tengah ketidakmudahan ekonomi akibat pandemi.

Mekanisme beasiswa UKT sebenarnya telah menuai banyak kebingungan sejak awal diterapkan pada periode kepemimpinan Ibu Reini Wirahadikusuma. Dulu, Kesma Kabinet KM ITB selalu dilibatkan dalam proses verifikasi berkas, wawancara, seleksi, hingga rekomendasi sehingga pihak rektorat dapat menerima nama-nama para mahasiswa yang memang sangat membutuhkan beasiswa. Namun sayangnya, mekanisme tersebut sekarang dihilangkan, padahal sebagai pelopor perjuangan kesejahteraan mahasiswa, Kesma Kabinet KM ITB seharusnya berhak untuk melanjutkan wewenang tersebut. Akibatnya, muncul keraguan mengenai proses seleksi penerima beasiswa UKT serta parameter-parameternya yang tidak lagi transparan. Hingga saat ini, Kesma Kabinet KM ITB masih terus mengusahakan nasib para mahasiswa yang terbebani dalam hal finansial namun belum mendapatkan beasiswa UKT. Rencananya, mereka akan melakukan pendataan untuk peninjauan kembali swadaya bersama forum Kesma HMJ dan TPB. 

Masih banyaknya permohonan pengajuan Beasiswa UKT membuat Direktorat Kemahasiswaan membuka mekanisme pengajuan usulan keringanan UKT yang akan dilaksanakan pada 25-30 Januari 2021. Mereka mengklaim akan mengevaluasi setiap usulan berdasarkan prinsip trust, sustainability, fairness, dan supportive. Tentu kita semua berharap mekanisme tersebut bukanlah terobosan satu malam belaka dan dapat memberi secercah harapan bagi para mahasiswa yang benar-benar membutuhkannya.

Memandang dari Perspektif Mahasiswa

Menilik dari isu beasiswa UKT ini, mahasiswa lah pihak yang terpapar dampak buruknya. Untuk mengajukan beasiswa tersebut, mahasiswa perlu terlebih dahulu mengajukan beberapa berkas seperti kartu keluarga, surat keterangan penghasilan orang tua/wali, SPT pribadi pajak penghasilan terakhir, foto tempat tinggal, tagihan listrik dan PBB, serta surat pernyataan orang tua/wali. Namun, salah satu mahasiswa TPB ITB jalur mandiri, Aldi, menyatakan bahwa sampai saat ini ia masih mempertanyakan apakah berkas-berkas yang diajukan telah sesuai, ia takut ketidaksesuaian berkas menjadi penyebab ia tidak mendapatkan beasiswa. Sementara itu, pihak ITB belum memberikan penjelasan tentang kriteria penerima beasiswa serta daftar mahasiswa penerima beasiswa. 

Aldi mengaku bahwa teman-teman seperjuangannya telah mencoba mengajukan “protes” kepada pihak ITB melalui media Twitter. Aldi juga telah mencoba mengajukan banding UKT, yang tampaknya tidak membuahkan hasil sesuai harapan. Sekali lagi, belum ada tanggapan dari pihak rektorat mengenai hal tersebut. Aldi menerima informasi bahwa peninjauan kembali mengenai isu ini sedang diusahakan oleh tim Kesma Kabinet KM ITB. “Maksudnya pengen lebih disuarakan langsung gitu ke itbnya. Kan kalo dari kesma mungkin lebih didenger,” ucapnya. Ia berharap pihak rektorat ITB dapat lebih transparan mengenai kriteria penerima beasiswa serta daftar mahasiswa penerima beasiswa agar ia bisa mendapatkan kejelasan bahwa hal ini bukan sekadar formalitas belaka.

Akibat permasalahan UKT ini, para mahasiswa pun melampiaskan kekecewaannya di media Twitter hingga beberapa di antaranya menjadi viral. Salah satu cuitan mahasiswa ITB yang cukup mendapat perhatian publik ditulis oleh pemilik akun @veeerush. Ia menyatakan sudah mengajukan berkas untuk beasiswa UKT saat daftar ulang, tetapi ia merasa terkejut saat menerima hasil pengumuman UKT yang masih dirasa terlalu besar untuknya. Dalam cuitan di akun Twitternya, ia juga menulis kasihan kepada kedua orang tuanya yang telah berusaha untuk menambah pendapatan bahkan meminjam dana untuk membayar uang kuliah anaknya tersebut. “gue kasian sama mereka terutama papa yang biasanya pergi jam 6 pulang jam 8 malem setelah narik angkot sekarang pergi jam 5 pagi pulangnya sekitar jam 11 malem, mama juga yg sekarang coba jualan apa aja untuk coba nambahin pendapatan, dan mereka juga udah banyak minjem yang pastinya bakal nambah terus atau berputar gitu aja karena UKT gue tetap segitu,” tulisnya. Pemilik akun @veeerush tersebut juga telah berusaha untuk mengajukan beasiswa UKT kedua di bulan Desember 2020 lalu dengan menulis esai tentang kondisi keluarganya, tetapi lagi-lagi hasilnya tidak sesuai dengan harapannya.

Cuitan kekecewaan lain ditulis oleh pemilik akun @fallforjihan yang hanya dapat berharap tanggungan UKTnya setidaknya dapat turun hingga ke nominal yang dapat keluarganya bayarkan. “Bahkan saya sampe kerja ini itu buat nabung bayar UKT. Saya gak pernah ngarep dapet UKT 0 rupiah, sekarang. Dapet 4 atau 3 juta aja udah sujud syukur. Soalnya saya dan ayah saya pun masih perlu beli obat syaraf yang harganya 900 ribu (hampir sejuta). Total 2 juta,” tulisnya dalam akun Twitter miliknya.

Saat ini, kita dapat mendengar sendiri suara keputusasaan dari para pejuang beasiswa UKT di ITB. Tidak sedikit mahasiswa yang mempertanyakan ulang tentang statement ITB, “Tidak akan men-DO mahasiswa karena masalah keuangan”. Ya, pihak ITB memang tidak mengeluarkan mahasiswanya, tetapi lepas tangan dalam kendala yang dirasakan mahasiswanya. Kekecewaan terhadap pihak rektorat ITB yang dinilai tidak berhasil mewujudkan kesejahteraan dan keadilan bagi mahasiswanya dalam hal finansial kerap dirasakan. Kapan mimpi buruk ini akan berakhir?

 

Penulis: Clara (FTSL’20), Sekar (BE’19)

Editor: Maria (STF’18)

Komentar