Artikel Berita Kilas

Berkarya Bersama Ganesha Future Creator!

Seluruh dunia saat ini sedang berjuang dalam memenangi peperangan melawan COVID-19. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa aktivitas-aktivitas yang terhenti karena pandemi harus tetap dieksekusi. Hal tersebut pun tak terelakan untuk segenap civitas akademika ITB, berbagai kegiatan kampus harus beradaptasi dengan situasi dan kondisi dewasa ini. Salah satunya adalah Ganesha Future Creator, sebuah perlombaan karya nasional antar SMA/MA sederajat. 

Ganesha Future Creator (GFC) merupakan proyek kelima dari ITB Project berupa kegiatan perlombaan pertama berskala nasional. ITB Project sendiri berada di bawah Kemenkoan Kesekjenan dan Kementerian BUMK yang bertanggung kepada Kabinet Mahasiswa (KM) ITB. GFC memberikan wadah bagi kreativitas anak bangsa setingkat SMA/MA yang mencakup beberapa cabang perlombaan.

Melansir cerita Project Officer GFC, Graciella Valeska Liander (STI’19), atau lebih akrab disapa Grace, GFC hadir melalui sebuah peluang di mana terdapat banyak perlombaan namun konsep perlombaannya hampir sama. GFC menyajikan sebuah perlombaan dengan konsep yang berbeda, di mana terdapat sebuah sesi inkubasi dan penilaian live (terbuka). Lomba ini pun tidak terbatas untuk anak-anak di Bandung saja, anak-anak SMA/MA sederajat dari seluruh Indonesia boleh turut serta dalam acara ini.

Tentu saja, sebuah perlombaan tidak bisa disebut perlombaan jika tidak ada lomba yang diadakan. Beberapa lomba yang diadakan adalah desain poster, puisi, fotografi dan videografi yang pendaftarannya telah dibuka pada 16 Januari 2021 lalu. GFC juga menyelenggarakan beberapa rangkaian acara lainnya, seperti instagram takeover, inkubasi, penjurian, dan closing. Instagram takeover mengundang beberapa ahli untuk saling berbagi insight dengan para peserta di tanggal 18 Januari hingga 4 Februari 2021. Lalu, para peserta yang telah mencapai tahap tertentu akan diinkubasi pada tanggal 21 Februari sebagai evaluasi dan pelatihan teknis. Setelahnya terdapat penjurian selama dua hari pada tanggal 5 hingga 6 Maret yang dapat dipantau langsung oleh massa umum melalui tayangan langsung. Sebagai penutup, akan diselenggarakan closing event pada tanggal 7 Maret yang berupa seminar terbuka.

Melihat situasi saat ini, melakukan adaptasi untuk menyelenggarakan perlombaan online menjadi sebuah tantangan tersendiri. Jika dahulu koordinasi dan bonding antar panitia dapat dengan mudah dilakukan, kini hal tersebut harus disesuaikan dengan kondisi secara daring. Ditambah dengan timeline yang dapat dibilang mepet menjadi tembok besar untuk GFC. 

Panitia merasa bahwa timeline kerja harus sangat matang supaya rangkaian acara GFC dapat dilakukan tepat waktu dan dapat menyesuaikan kondisi pandemi saat ini. Koordinasi antar panitia juga perlu diperjelas sehingga tidak ada kegiatan yang bertabrakan antara satu dengan yang lain.

Panitia pelaksana menargetkan seluruh rangkaian acara GFC ini dapat berjalan dengan lancar dan sukses. Tidak hanya itu, seluruh peserta GFC ini ditargetkan untuk dapat merasakan suasana kompetisi dengan konsep yang berbeda dari kebanyakan lomba lainnya meskipun dilakukan secara daring.

Dengan adanya GFC ini, Grace berharap untuk mendapatkan banyak pelajaran baru yang bisa membuatnya lebih berkembang, termasuk kerja sama dalam tim. Grace pun berharap bahwa antar panitia dapat lebih akrab bahkan setelah seluruh rangkaian acara GFC usai. Tentu, panitia pelaksana GFC ini bukanlah sembarang orang, mereka adalah orang-orang terpilih yang berbakat dan mampu untuk mengemban tugasnya masing-masing. Namun, jika hubungan antar panitia dapat dieratkan lagi, maka koordinasi akan lebih mudah untuk dilakukan. Grace pun berharap agar semua panitia mendapatkan experience yang baik selama menjadi panitia di GFC.

Dengan adanya GFC ini, diharapkan para peserta dapat merasa terwadahi dalam menyalurkan bakat serta potensi yang mereka miliki. Para peserta juga diharapkan dapat terus mengingat rangkaian acara GFC sebagai wadah penyaluran kreativitasnya. Adapun harapan terakhir Project Officer GFC tahun ini adalah GFC yang dapat terus longlast ke depannya.

Penulis Pandu Adinata Putra Senjaya (FTTM’20) & Rahmah Khoirussyifa’ Nurdini (IF’19)

Editor : Maria Sinta (STF’18)

Komentar