Artikel COVID-19 Kampus Liputan

Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Pandemi Bersama Kementerian EPKM dan Riliv

Pada Minggu (28/02), Kementerian Edukasi dan Pendampingan Kesehatan Mental (EPKM) KM ITB kembali menyelenggarakan Kelas EPKM bertemakan “How to be Mentally Resilient During Pandemic”. Kali ini, Kelas EPKM berkolaborasi dengan Riliv, sebuah aplikasi meditasi dan konseling psikolog daring, untuk membagikan kiat-kiat sekaligus menginformasikan fasilitas-fasilitas apa saja yang bisa mahasiswa gunakan untuk menjaga kesehatan mental di tengah pandemi.

Sesi pertama webinar dimulai dengan pemaparan oleh Audrey Maximilian Herli, Co-founder dan CEO Riliv. Berangkat dari ketertarikannya dengan dunia startup saat duduk di bangku kuliah, Kak Maxi, begitu ia biasa disapa, merintis Riliv. Riliv adalah aplikasi konseling daring untuk pendampingan kesehatan mental bagi orang-orang yang memiliki masalah pribadi di kampus dan perusahaan. Lewat aplikasi ini, Kak Maxi ingin membantu menghubungkan mereka dengan tenaga-tenaga kesehatan mental profesional tanpa perlu takut dengan stigma sosial masyarakat yang kerap kali menganggap kesehatan mental sebagai isu tabu.

Selanjutnya, Kak Maxi menyampaikan bahwa di masa pandemi COVID-19, 64% masyarakat Indonesia merasakan depresi. Data yang ia ambil dari Ikatan Dokter Jiwa Indonesia ini mengindikasikan bahwa kecemasan yang dialami akibat belajar dari rumah, ancaman di-PHK, dan tidak dapat bersosialisasi dengan teman merupakan masalah yang dialami oleh banyak orang. Kita tidak perlu merasa khawatir karena kita tidak sendirian.

Menurut Kak Maxi, untuk dapat mengatasi perasaan depresi dan cemas, diperlukan mental resilien yang bisa dicapai melalui tiga pola pikir. Pertama, start with why. Apabila telah ditemukan, ‘why’ dapat kita jadikan sebuah landasan kuat untuk mencari passion dan meraih cita-cita, khususnya saat masih berkuliah. “Sebelum memulai kegiatan, pastikan kalau itu sesuai dengan ‘why’ dan kesukaan kita. Antusiasme yang timbul akan membuat kewajiban menjadi tidak terasa karena memang kita enjoy menjalaninya,” nasihatnya.

Kedua, fail fast and fail forward. Kegagalan tidak seharusnya kita hindari karena kegagalan adalah bagian dari proses untuk mencapai keberhasilan. Terakhir, untuk mencapai mental yang resilien, kita juga tidak boleh sering berdalih untuk menutupi kegagalan-kegagalan yang diperbuat. Sebaliknya, jadikanlah pengalaman tersebut sebagai pelajaran untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Pada sesi kedua, Riliv for University, yang diwakili oleh Ardiana Meilinawati, menjelaskan fitur-fitur yang mereka sediakan untuk membantu mahasiswa menjadi sehat secara mental. Kak Dina menyebutkan bahwa setiap mahasiswa memiliki hak untuk membantu dan mencintai dirinya sendiri. Oleh karena itu, Riliv for University menyediakan banyak sekali alternatif fitur seperti mood tracker, journaling, journey, story, bubble breath, meditasi (riliv hening), dan konseling (riliv konseling) yang bisa mahasiswa akses kapan saja dan di mana saja.

Kelas EPKM ditutup dengan launching EPKM Mental Health Resources, sebuah kanal terpusat yang menyediakan segala informasi mengenai fasilitas pendampingan kesehatan mental bagi mahasiswa ITB. Rizqy Ananda selaku menteri EPKM menjelaskan bahwa http://linktr.ee/mentalhealthkesma merupakan kumpulan informasi layanan kesehatan mental yang disediakan oleh ITB dan Kementerian EPKM KM ITB. Melalui kanal tersebut, diharapkan mahasiswa ITB tidak lagi bingung ke mana mereka harus mencari bantuan demi mendapatkan mental yang lebih sehat dan resilien.

Penulis: Sekar Dianwidi B. (BE’19)

Komentar