Artikel Kampus Uncategorized

[PART 2] Mengenal Kebutuhan Emosi dan Penanganan Kecemasan Mahasiswa Selama Pandemi

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sesi pertama yang dapat dibaca di https://boulevarditb.com/2020/08/06/part-1-mengenal-kebutuhan-emosi-dan-penanganan-kecemasan-mahasiswa-selama-pandemi/

Webinar perdana Ganesha Mental Care dilanjutkan dengan pemaparan sesi kedua oleh Anastasia Satriyo, M.Psi., Psi.  Kak Anas sendiri adalah seorang psikolog lulusan UI yang sekarang menjadi praktisioner dan sudah sering juga menjadi pembicara di berbagai seminar lainnya. Meskipun materi yang dibawakannya bisa dibilang tidak seruntut pada sesi sebelumnya, Kak Anas mencoba membawakan suasana yang lebih interaktif dengan peserta pada sesi kedua ini. Hal ini ia tunjukkan melalui google form buatannya yang dibagikan kepada peserta untuk menanyakan kondisi kesehatan mental mereka.

Kak Anas lalu membacakan hasil form secara sekilas. Dari 44 peserta yang mengisi form, mayoritas menyatakan intensitas gangguan kesehatan mentalnya ada pada tingkat 6-8 dalam skala 1-10. Beberapa alasan kecemasan termasuk permasalahan kuota dan sinyal internet, kepanitiaan atau organisasi yang program kerjanya jadi sulit dilaksanakan, teman yang kurang suportif, sampai dengan dosen pembimbing yang sulit dikontak.

Menurut Kak Anas, hasil form tersebut mencerminkan kenyataan bahwa mahasiswa merupakan salah satu kalangan yang paling terdampak secara mental oleh pandemi. Itu adalah karena remaja masih dalam tahap perkembangan otak yang mengalami banyak perubahan sehingga lebih mudah cemas. Selain itu, tidak boleh dilupakan bahwa (mahasiswa sebagai) orang-orang dengan IQ yang lebih tinggi cenderung lebih sulit mengendalikan emosinya. Tak adanya kesempatan formal untuk membahas topik kesehatan mental maupun self-care jugalah yang menjadikan isu ini seringkali terlewat untuk dibahas.

Kebutuhan Emosi Manusia

Kak Anas memulai pemaparannya dengan menceritakan beberapa kebutuhan emosional manusia. Pertama, ada keseimbangan antara perasaan aman (secara ekonomi, fisik, emosi) dan perasaan bebas atau memiliki kontrol atas kehidupan. Selain itu, ada kebutuhan mendapatkan support dan untuk berkoneksi dengan orang lain. Last but not least, ada juga kebutuhan bergerak dan berekspresi untuk berkarya, menikmati hidup, dan untuk rileks.

Selain kebutuhan-kebutuhan umum di atas, Kak Anas menekankan bahwa tiap kita memiliki kebutuhan emosional tersendiri yang spesifik untuk diri kita masing-masing. Kebutuhan emosional diri inilah yang harus kita coba cari tahu lewat evaluasi personal agar segera dapat terpenuhi. Beberapa kebutuhan emosi personal bisa termasuk kebutuhan untuk didengarkan, diperhatikan, dan sebagainya. “You do you adalah tema besarnya,” ucap Kak Anas.

Terlebih lagi, kita juga harus ingat bahwa kesehatan mental adalah sebuah spektrum. Tidak ada yang sehat 100 persen, tapi hal yang mungkin kita lakukan adalah bergerak menuju ke arah itu. Evaluasi diri sangatlah perlu untuk mengetahui seberapa sehat keadaan mental kita. Sekalipun kita memang benar memiliki gangguan kesehatan mental berat, Kak Anas ingin meyakinkan kita bahwa pergi ke psikolog adalah hal yang wajar dan bukanlah hal yang “hanya orang gila lakukan”. “Pergi ke psikolog bagai menyelesaikan masalah (mental) saya untuk enam bulan ke depan; anggaplah itu sebagai sebuah investasi,” tambah Kak Anas.

Perubahan Emosi dan Self-care Selama Pandemi

 Kak Anas juga menyampaikan beberapa cara self-care yang bisa kita lakukan di tengah pandemi. Pertama, kontras dengan pandangan beberapa budaya bahwa diam atau tidak menunjukkan perasaan/emosi itu adalah hal yang baik, ia menyebut bahwa menerima emosi yang kita miliki itu baik adanya dan mengekspresikannya adalah hal yang wajar.

Menurut Kak Anas, ketika kita mengalami pengalaman yang buruk atau menyakitkan, hal pertama yang harus dilakukan adalah menerima bahwa pengalaman itu menyakiti diri kita. Perlahan-lahan, memori akan kejadian buruk tersebut mungkin masih menempel, tetapi tidak sama halnya dengan perasaan sedih yang timbul. Itulah yang disebut dengan “letting go”.

Kedua adalah menciptakan rutinitas baru dan sehat untuk diri kita. Menariknya, kesehatan mental cukup banyak dipengaruhi oleh kesehatan fisik. Sering makan sayur dan berjemur di bawah matahari, contohnya, meningkatkan penyerapan vitamin D oleh tubuh kita–dan perlu diingat bahwa defisiensi kadar vitamin D menurunkan kestabilan mood. Kak Anas sendiri merasa mood-nya lebih tidak stabil apabila sering mengonsumsi daging merah.

Ketiga, penggunaan aplikasi mood path untuk journaling tentang emosi juga bisa dilakukan. Hal ini bisa diiringi dengan hal-hal sederhana yang membuat kita melakukan self-talk ke diri sendiri, dan mencari alasan bangun pagi atau meneruskan keseharian dengan senang. Dengan melakukan hal-hal tersebut, efek samping pandemi seperti emosi yang semakin sensitif dan intens, overthinking, maupun mood swing dapat diminimalisir.

Keempat, latihan relaksasi napas juga patut dicoba. Salah satu contohnya adalah belly/diaphragm breathing, di mana kita duduk tegak lalu menarik napas, menahannya, lalu mengeluarkannya selama beberapa kali berturut-turut (20-30 kali umumnya). Ada juga teknik square breathing atau 2-4-7 breathing yang lebih advanced.

Kak Anas kemudian menekankan bahwa pengendalian emosi bisa membantu diri kita dalam menjaga diri lebih baik, dalam berelasi dengan orang lain, dan kemudian dalam tahap reasoning dengan orang lain. Dengan pengendalian emosi jugalah kita bisa menempatkan diri di tengah fight or flight mechanism (tahu kapan harus merespons terhadap kejadian dan kapan untuk tidak). “It’s okay to be not okay,” tambah Kak Anas untuk menutup sesi pemaparannya.

Webinar Ganesha Mental Care perdana ini selesai pada pukul 15.55 WIB. Secara keseluruhan, partisipan cukup puas dan antusias mengikuti webinar yang berlangsung sekitar dua jam setengah itu. Ke depannya, Ganesha Mental Care akan terus membawakan platform dan konten yang terus meningkatkan awareness kita terhadap kesehatan mental yang tak kalah seru dengan webinar Ganesha Mental Care kali ini. Jadi, jangan sampai kelewatan!

 

Penulis: Arini (EB’19), Rizky (TL’19), William (AR’18)

Editor: Patricia (BI’18)

Artistik: Levana (SI’19)

Komentar