Artikel COVID-19 Kampus

Praktikum dalam Jaringan?

Keadaan Bumi kita sedang tidak baik karena diserang oleh pandemi Covid-19, tidak terkecuali Indonesia. Tercatat pada 8 September kemarin, sudah lebih 200 ribu kasus positif Covid-19 di Indonesia. Kasus ini terus bertambah banyak seiring berjalannya waktu, mengingat transmisi virus ini sangat cepat, apalagi tipe penyebarannya termasuk airborne transmission (virus bisa bertahan di udara selama waktu tertentu sehingga virus akan semakin bertahan lama apabila ruangan punya ventilasi buruk). CDC (Centers for Disease Control and Prevention) sudah meresmikan negara Indonesia sebagai tingkat 3 high risk country yang berarti sudah termasuk negara berbahaya untuk dimasuki (8/9/2020, Kompas). Bersamaan dengan itu, 59 negara telah memboikot WNI agar tidak bisa masuk ke negara mereka (9/9/2020, SINDONews). Akibat kejadian tersebut, maka kita sebagai mahasiswa diharuskan melakukan kuliah di rumah (daring), tanpa terkecuali dengan praktikum. Upaya ini dilakukan untuk mencegah proses penyebaran virus. Praktikum secara daring merupakan alternatif praktikum yang dipilih ITB pada masa pandemi ini setelah kabar praktikum luring pada bulan November dibatalkan. Rupanya hal ini menjadi perbincangan di kalangan mahasiswa tentang bagaimana proses serta hasil dari praktikum daring tersebut.

Setelah melakukan survei pada dua belas fakultas dengan program studi yang berbeda, diketahui bahwa metode praktikum yang diterapkan berbeda-beda. Ada yang menggunakan presentasi, menonton video lalu melakukan simulasi, melakukan asistensi secara daring hingga menggunakan tumbuhan atau alat seadanya di rumah, adapun alat praktikumnya dikirimkan ke rumah. Beberapa program studi juga belum mengetahui mengenai metode praktikum yang akan dilakukan. Hal ini mengakibatkan mahasiswa bingung dan resah di awal perkuliahan secara daring. 

Berdasarkan survei yang dibuat, 90% responden lebih memilih praktikum yang diadakan secara luring, sedangkan sisa responden sebesar 10% memilih praktikum daring. Tentu saja ada sebab di balik 90% itu. Keraguan di kalangan mahasiswa muncul karena asistensi yang akan dilakukan selama praktikum daring dirasa kurang interaktif, contohnya koreksi tidak bisa langsung diberikan. Banyak juga responden yang menjawab bahwa  praktikum secara langsung akan lebih terasa emosinya, suasana lebih menegangkan, terpacu oleh waktu membuatnya lebih seru, dan keterampilan dari pembelajaran luring bisa lebih melekat dalam otak. Pengalaman seperti itu terjadi karena bisa mengoperasikan peralatan dan mendapat bahan pembelajaran sambil mengenakan jas laboratorium bersama teman-teman dan asisten praktikum yang dilakukan di laboratorium secara langsung. Tak hanya praktikum, mata kuliah yang tidak mengenakan jas laboratorium juga lebih menantang bila dilakukan secara luring seperti pembuatan kriya, melakukan bengkel kerja di desain produk, dan kegiatan lainnya. 

Fasilitas di rumah yang cenderung terbatas seolah memaksa mahasiswa untuk mencari apa yang dibutuhkan selama kuliah daring ini. Selain itu, banyak kendala yang dihadapi saat pembelajaran jarak jauh terutama kendala teknis yang tidak bisa dihindari. Kendala teknis seperti koneksi tidak stabil, keterbatasan kuota, dan faktor lingkungan yang tidak mendukung seperti berisik dan gelap. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia sendiri telah mengeluarkan keputusan pemberian kuota edukasi pada badan akademik (sekolah, perguruan tinggi) lewat berbagai operator namun tetap saja kuota tersebut tidak bisa berguna bila sinyal tidak ada. Kesulitan sinyal dialami beberapa daerah Indonesia seperti Sulawesi, Kalimantan, dan Papua bagian pelosok membuat mahasiswa harus mencari sinyal ke luar rumah. Namun, alasan ini tak menutup kemungkinan bahwa praktikum secara daring masih bisa dilakukan.

Manfaat yang didapatkan dari masalah ini yaitu praktikum daring dapat berperan untuk membantu pencegahan pandemi Covid-19 di Indonesia karena sejalan dengan saran pemerintah untuk menjaga jarak dan tidak berkumpul dalam jumlah banyak di suatu lokasi. Apalagi dengan pengumuman bahwa AKB atau Adaptasi Kebiasaan Baru tidak terlaksana secara efektif sehingga kembali diberlakukan lockdown di beberapa daerah, kemungkinan praktikum atau mata kuliah studio secara luring semakin menipis.

Dengan kondisi pandemi seperti ini, tindakan-tindakan yang kita lakukan pasti akan menimbulkan risiko. Tentu saja risiko ini harus diminimalkan untuk kepentingan bersama. Pihak kampus telah memikirkannya secara matang sehingga praktikum diadakan secara daring, walau pengalaman dan pengetahuan belum maksimal serta tidak sebanding dengan turun langsung ke lapangan. Memang ada solusi yang bisa ditawarkan, misalnya praktikum luring dengan menerapkan protokol kesehatan ketat serta membagi kelas agar tidak mengumpulkan banyak orang di satu lokasi. Namun, risiko yang ditanggung antara lain kemunduran kalender pendidikan karena pembagian kelas praktikum yang banyak, serta kebutuhan biaya yang cukup banyak terutama bagi para mahasiswa yang masih berada di daerah asal agar bisa kembali ke Bandung. Ide lainnya adalah pemberlakuan setengah daring (untuk yang tinggal di luar Bandung), setengah luring (tinggal di Bandung atau bisa ke Bandung), serta adanya diskusi dua arah antara dosen dan mahasiswa mengenai alat dan bahan praktikum untuk mengoptimalkan keefektifan praktikum secara daring ini. Semua dikembalikan pada ITB dan para dosen, mari percaya dengan apa yang sudah ditentukan oleh ITB adalah jalan yang terbaik dan teraman walaupun masih banyak kekurangan.

 

Oleh :

Auliya Rusyda Hisyam Arif

Muhammad Dzaki Naufal R.

Editor : Arini
Cover: James

Komentar