Artikel Kilas

ArkasenAct: Memulai Bisnis di Perkuliahan? Siapa Takut?

Pada 15 Januari 2021, diselenggarakan sebuah webinar bertajuk “Memulai Bisnis di Perkuliahan? Siapa Takut?” oleh Arkasena in Action, TEC ITB. Dimulai pukul 13.30 WIB dengan sambutan dari Ketua Pelaksana, Azhar, acara kemudian diserahkan pada Sheba selaku moderator. Terdapat dua pembicara, Tarreq Kemal sebagai CEO Akademis.id dan Zaidan Husain sebagai CEO Skill-Up. Keduanya merupakan mahasiswa SBM ITB yang akan lulus pada tahun 2022 nanti. Webinar yang diselenggarakan di ZOOM dengan 200 partisipan ini terbagi menjadi dua sesi, yaitu talkshow dengan pembicaraan santai lalu dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan pembahasan studi kasus.

Talkshow dimulai dengan kilas balik kehidupan Kemal dan Zaidan pada saat keduanya baru merintis bisnis. Kemal bercerita bahwa sosok Nadiem Makarim, sang pendiri GOJEK membuatnya tertarik dengan dunia bisnis. Pengalamannya yang tidak mengikuti bimbel sehingga kesulitan saat mengikuti TO menambah keinginannya mendirikan bisnis di bidang pendidikan. Sama seperti Kemal, Zaidan juga mendirikan bisnis di bidang pendidikan karena pengalaman. Ia melihat banyak orang beranggapan bahwa pendidikan merupakan suatu privilese yang tidak bisa didapatkan semua orang sehingga banyak terjadi ketimpangan dalam hal mencari ilmu. Oleh karena itu, Zaidan mendirikan Skill-Up dengan tujuan untuk menyediakan akses pendidikan yang layak sebagai hak semua orang.

Awal realisasi bisnisnya, Kemal sempat bingung karena masih awam tentang bisnis.  Kemudian, ia mencari teman dengan visi yang sama serta kemauan belajar yang tinggi. Untuk Zaidan, pembangunan bisnisnya dimulai dengan sudut pandang bahwa bisnis itu seperti orang tua membesarkan anaknya. Dirinya menganggap bahwa pembangunan bisnis memerlukan 3 kepribadian utama: action, social, dan thinking. Ketiganya harus memiliki peranan yang seimbang agar kestabilan bisnis dalam hal sumber daya manusia terbantu. 

Setelah membahas langkah awal atau unsur terpenting dari bisnis, yaitu manusia, fondasi lain yang tak kalah kuat adalah modal. Kemal dan Zaidan berpesan kepada orang yang mau berbisnis, khususnya mahasiswa, untuk tidak takut akan modal. Saat baru merintis Akademis.id dan Skill-Up, keduanya hanya mengandalkan tabungan uang jajan mereka. Selama ada strategi bisnis yang jelas, kerja sama tim yang baik, dan komitmen penuh dalam menjalankannya, dana investasi akan datang dengan sendirinya. Lalu, berlanjut pada hasil bisnis atau biasa disebut sebagai produk. Produk yang ditawarkan oleh Kemal dan Zaidan berupa soal dan materi ringkasan untuk belajar. Di Akademis.id dan Skill-Up, mereka juga telah melakukan analisis kondisi di lapangan, meminimalkan kesalahan dalam produk, dan mempelajari pihak kompetitor dalam bidang yang sama demi memastikan bahwa produk yang dikeluarkan sesuai dengan keinginan pasar.

Akademis.id dan Skill-Up adalah dua perusahaan yang berbeda. Akademis.id yang dipimpin oleh Kemal memiliki value dalam sumber daya manusia yang memenuhi kriteria L.E.A.R.N, yaitu long-life learning (selalu belajar), entrepreneurship, adaptive (menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar), rectify (tulus dalam melakukan sesuatu), dan not serious but also fun (tidak selalu serius, mengerti dengan keadaan). Zaidan dengan Skill-Up memegang teguh prinsip ‘di mana ada kemauan untuk belajar, di situ sistem harus mendukung’. Skill-Up juga memiliki visi untuk menjadi wadah pengembangan diri baik bagi pelanggan maupun karyawannya.

Kemal berpendapat bahwa sebuah bisnis harus dibangun berdasarkan data di lapangan dan tidak hanya bergantung pada asumsi pribadi. Kemauan untuk terus belajar dan kepribadian yang baik turut berperan dalam menjalankannya. Sementara itu, bagi Zaidan, terdapat lima komponen utama dalam berbisnis, yaitu common purpose (tujuan yang sama), clear roles (peran yang jelas), culture fit (kepercayaan dalam tim), balance personality (kesetimbangan peran), dan measurable object (tujuan yang mungkin dicapai).

Di samping bisnis, Kemal dan Zaidan yang masih berstatus mahasiswa sepakat bahwa tantangan yang harus dihadapi dalam membangun bisnis adalah manajemen waktu yang baik. Terlebih bagaimana caranya untuk tetap mengedepankan beban akademik di sela-sela bisnis. Untuk itu, diperlukan manajemen prioritas dan kesadaran akan kapabilitas diri sendiri. Dibutuhkan juga penerapan prinsip work-life harmony dalam segala hal yang sedang dijalani dan kepercayaan bahwa great impact requires great sacrifice.

Sebagai penutup, Kemal dan Zaidan menyampaikan sebuah kalimat untuk para partisipan yang berbunyi ‘apapun yang ada di bawah langit biru bisa kita gapai asalkan kita mau’. Jangan pernah takut mengalami kegagalan karena kegagalan turut membantu dalam meraih kesuksesan. Sesi talkshow kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan tiga soal studi kasus. Studi kasus berlangsung dengan sangat interaktif antara para partisipan dengan kedua pembicaranya. Dengan berakhirnya webinar, diharapkan semangat dan manfaat dapat tersampaikan pada para mahasiswa yang ingin merintis bisnis.

Oleh: Auliya Rusyda Hisyam Arif & Sarah Alya Zahra

Editor: Arini Rahma A. 

Komentar