Artikel Kampus

Mengenal KM ITB di Tahun 1998 Bersama SENAPAN RA KM ITB 2021

Pada 16 Januari 2021, telah diadakan Webinar SENAPAN (Serapan Sembilan Delapan) Refleksi Akbar KM ITB 2020 dengan tema “Peran Sumbangsih KM ITB dan Kisah Berkemahasiswaan KM ITB dalam Tragedi 1998”. Webinar ini merupakan rangkaian acara Refleksi Akbar Keluarga Mahasiswa ITB 2020/2021 yang bertujuan untuk mengenang jasa mahasiswa ITB terhadap Indonesia. SENAPAN mengundang dua pembicara yang berperan penting dalam kemahasiswaan tragedi 1998, yaitu Agung Wicaksono dan Didik Fortunata. Acara dibuka oleh pembawa acara pada 13.00 WIB dengan sambutan dari Sekretaris Jenderal RA KM ITB, Theodorus Melvin.

Sesi pemaparan diawali oleh Bapak Agung dengan sebuah pernyataan, “We didn’t create history, but history came to us.” Ketika bangsa Indonesia saat itu memerlukan perubahan, mahasiswa sebagai corong masyarakat perlu melakukan gerakan moral, bukan politik, untuk melakukan perubahan. Pada saat itu, mahasiswa ITB bergerak tanpa lembaga mahasiswa terpusat. Adapun lembaga yang menjadi representasi massa adalah Forum Ketua Himpunan Jurusan ITB (FKHJ). Untuk kepentingan mewadahi isu-isu nasional, dibentuklah Satgas KM ITB (Satuan Tugas Keluarga Mahasiswa ITB). Lembaga ini bertugas merumuskan pengawalan untuk perubahan dan juga mendorong HMJ untuk bergerak.

Salah satu warisan KM ITB dalam gerakan 1998 adalah salam reformasi yang dibuat oleh Yaya. Gerakan tangan yang terbuka menunjukkan penolakan terhadap kekerasan; sebagai kebalikan dari tangan mengepal yang identik dengan kekerasan.

Menurut beliau, tidak hanya aktivis, tetapi juga masyarakat secara keseluruhan harus bersuara. Beliau menegaskan, “Ini kewajiban kita untuk menyuarakan suara negara.” Gerakan mahasiswa sebenarnya telah berlangsung sejak 1997. Gerakan ini tidak dimulai dari aksi mimbar bebas, tetapi dari aksi pembagian sembako dan advokasi. “Ini bukan masalah politik maupun ekonomi, melainkan masalah kepercayaan,” kata alumni Teknik Industri ITB 1995 ini.

Direktur Utama PT Transportasi Jakarta ini bercerita banyak tentang ihwal yang ia hadapi masa itu, seperti dosen dan rektorat yang tidak sepenuhnya mendukung gerakan ini, hingga ketakutan akan “hilang” saat bersuara. Kala itu, beliau bersama teman-temannya melakukan aksinya di sekitar Bandung, terutama di sekitar Gedung Sate.

Menurut beliau, peristiwa di Bandung tidak cocok disebut tragedi karena aksi di Bandung berlangsung dengan sangat damai, “Kita (mahasiswa dan aparat) di situ sadar bahwa kita menjalankan tugas masing-masing. Aparat memastikan tidak terjadi kerusuhan, dan saya (mahasiswa) hadir untuk menyuarakan suara rakyat,” ungkapnya.

Sekretaris Jenderal FKHJ ITB ini juga bercerita bahwa gerakan mahasiswa ITB tidak hanya memberikan ketakutan, tetapi juga persahabatan yang hangat. Saat menjalankan aksi, mahasiswa ITB banyak bekerja sama dengan mahasiswa kampus lain, terutama Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada. Bahkan, Bapak Agung bersama ketua senator UI dan UGM saat itu masih bersahabat hingga saat ini.

Setelah tragedi 1998, Pemilu Raya Keluarga Mahasiswa ITB yang pertama dilaksanakan pada tahun tersebut. “Saat ini adalah momentumnya untuk kerahkan pemilu raya; KM ITB punya sistem pemerintahan yang terpusat lagi setelah sekian lama terpencar,” kata beliau. Keberagaman, yang saat itu direpresentasikan oleh HMJ, bukan ihwal orang yang paling kuat atau dominan, melainkan ihwal saling mengisi kekurangan.

Sesi pemaparan dilanjutkan oleh Bapak Didik. Sejalan dengan nama refleksi akbar, beliau mengingatkan bahwa kajian masa lalu tidak untuk dijadikan contoh, tetapi referensi belaka. Karena zaman sudah berbeda, tantangan yang dihadapi mahasiswa saat ini pun berbeda. Untuk itu, mahasiswa harus tetap senantiasa melihat ke depan.

Beliau pula menyempurnakan pernyataan Pak Didik, bahwa kita turut mempersiapkan sejarah, dan ketika momennya datang, sejarah pun terjadi. Gerakan reformasi tidak dibangun dalam waktu yang singkat, tetapi dipersiapkan dalam bertahun-tahun oleh serangkaian kejadian yang bertautan.

Beliau menyambungkan kondisi pada zaman orde baru dengan adegan dalam buku “Revolusi dalam Secangkir Kopi” yang ditulis olehnya. Sebagai contoh, kendat atau gantung diri yang dilakukan oleh orang tua keluarga eks-PKI karena rasa bersalah telah menurunkan cap eks-PKI. Lahir dari keluarga eks-PKI adalah bagai sebuah hukuman. Walaupun seseorang dapat dikatakan memiliki masa depan yang cerah, apabila ia adalah anak seorang eks-PKI, masa depannya dapat hancur begitu saja. Beliau menambahkan peristiwa penyampaian pendapat yang bertentangan yang dapat berlanjut ke “tanda” politik, hingga berakhir ke hilang begitu saja. Karena konsekuensi-konsekuensi tersebut, rakyat takut, begitu pula mahasiswa.

Selain menceritakan kisahnya di tahun 1998, Pak Didik juga memberi pesan kepada para mahasiswa terkait pentingnya mahasiswa untuk bersuara. Arti maha dalam mahasiswa jangan dijadikan beban, tetapi dijadikan motivasi. Mahasiswa adalah kelompok hebat yang terdiri atas putra-putri terbaik negeri. Mahasiswa juga adalah pemimpin masa depan. Untuk itu, ketika masa depan mereka sedang dikorupsi, mereka harus berteriak. 

Sesi pemaparan ditutup dengan sesi tanya jawab dengan massa kampus. Bapak Didik dan Bapak Agung mengingatkan bahwa setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Sekarang, KM ITB banyak berjuang di dalam kampus, seperti mengajarkan adik mahasiswanya untuk memiliki minda yang baik. Tantangan tersebut tidak lebih mudah dibandingkan perjuangan pada tahun 1998. Untuk itu, seperti yang telah disampaikan sebelumnya, keberagaman di HMJ perlu mampu melengkapi satu sama lain sehingga perjuangannya dapat terasa oleh semua warga ITB.

 

Penulis: Maria Kirana MA’19, Reza Pahlawan FMIPA’20

Editor : Maria STF’18

Komentar